Pagi itu rumah terasa hidup sejak matahari baru naik. Aroma kopi memenuhi ruang makan, sementara suara langkah kaki terdengar turun dari lantai atas. Jevan sudah rapi dengan kemeja kerja, duduk di ujung meja sambil membaca pesan di ponselnya. Jelita muncul dari arah tangga dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia langsung duduk di kursi seberang Papanya dan menyambar roti. “Pa,” ucap Jelita sambil mengunyah, “aku kepikiran sesuatu.” Jevan menoleh. “Apa?” Jelita mengangkat wajahnya, matanya melirik ke arah ruang keluarga, tempat Vania baru saja lewat membawa tas kampusnya. “Vania perlu beli baju baru.” Vania yang mendengar namanya langsung berhenti melangkah. “Kenapa tiba-tiba?” Jelita menatapnya tanpa sungkan. “Karena pakaian kamu itu terlalu biasa. Kamu tinggal di sini sekarang. A

