Ruang tengah terasa sunyi meski lampu-lampu menyala terang. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Jevan duduk di sofa seorang diri, kemeja kerjanya sudah diganti kaus rumah berwarna gelap. Wajahnya tampak lelah, bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikirannya sendiri. Langkah kaki terdengar pelan dari arah tangga. Mira muncul dengan pakaian rumah yang sengaja terlihat santai tapi tetap menarik. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya dihiasi riasan tipis. Ia menghentikan langkah tepat di belakang sofa, lalu tanpa ragu duduk sangat dekat, bahunya menempel ke lengan Jevan. Mira menyelipkan lengannya ke lengan Jevan dengan manja. “Capek?” tanyanya lembut, nada suaranya dibuat serendah mungkin. Jevan tidak langsung menjawab. Matanya tetap ke arah televisi. “Biasa,” balasnya sin

