Vania sudah memikirkan semuanya sejak malam itu. Sejak kata-kata Mira menancap seperti duri yang tidak terlihat namun terasa perih setiap kali ia menarik napas. Kata-kata tentang hubungan dewasa, tentang kemungkinan kehamilan, tentang masa depan yang sama sekali tidak pernah menyebut namanya. Semua itu berputar di kepalanya tanpa henti, bahkan ketika pagi datang dengan cahaya yang lembut dan udara yang terasa terlalu tenang untuk isi hatinya yang kacau. Pagi itu Vania bangun lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai kamar, mendengarkan suara rumah yang perlahan hidup. Ada langkah kaki di lantai bawah, suara gelas, suara air, rutinitas yang selama ini selalu ia anggap sebagai bagian dari rumah yang hangat. Namun sekarang, semua itu terasa asing. I

