Pagi datang tanpa permisi. Cahaya tipis menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di kelopak mata Vania yajng masih terpejam. Ia membuka matanya perlahan. Bukan bangun yang ringan, tapi seperti ditarik paksa dari tidur yang belum tuntas. Kepalanya terasa berat, berdenyut pelan tapi terasa tidak nyaman sekali, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Vania mengernyit. “Aduh…” gumamnya lirih. Ia menelan ludah. Rasa mual tiba-tiba naik begitu saja, membuat dadanya terasa sesak. Perutnya bergejolak, tenggorokannya panas. Refleks, tangannya menutup mulut. Ia menahan napas, takut suara atau gerakannya membangunkan Jelita yang masih terlelap di sampingnya. Perlahan, Vania memiringkan wajahnya, melirik ke arah sahabatnya itu. Jelita tidur menyamping, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya

