Vania duduk di bangku panjang kantin kampus dengan punggung sedikit membungkuk. Tangannya diletakkan di atas meja, jemarinya saling bertaut tapi dingin dan berkeringat. Suara riuh mahasiswa lain, bunyi sendok beradu dengan mangkok, tawa-tawa kecil di sekitar mereka, semuanya terasa terlalu keras di telinganya. Di sampingnya, Jelita tampak santai seperti biasa. Rambutnya diikat setengah, wajahnya segar, dan ekspresinya ceria seolah dunia sedang baik-baik saja. “Van,” kata Jelita sambil mendorong satu mangkok ke arahnya. “Aku beliin seblak favorit kamu. Pedesnya pas, tadi aku bilangin ke abang-abangnya.” Vania menoleh perlahan. Begitu matanya menangkap isi mangkok itu—kuah merah menyala, aroma cabai yang menyengat, kerupuk basah yang mengembang—dadanya langsung bergejolak. Perutnya berko

