Vania berdiri di depan etalase kaca apotek dengan jantung berdegup terlalu kencang untuk ukuran sore yang sebenarnya biasa saja. Pendingin ruangan menyentuh kulitnya, membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Tangannya mengepal di dalam tas, meremas tali tas itu seolah bisa menyalurkan kegugupan yang menyesakkan dadanya. “Mb—mbak…” suaranya nyaris tercekat. Mbak apotek yang sedang menata obat di rak menoleh. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam, terbiasa mengamati orang-orang dengan berbagai kebutuhan dan berbagai rahasia. “Iya, Dek?” tanyanya sambil mendekat ke meja kasir. Vania menelan ludah. Lidahnya terasa kering. “Testpack… ada?” Mbak apotek mengangguk santai, lalu mengambil satu kotak dari laci bawah. Ia meletakkannya di atas meja, tapi tidak langsung melepaskannya. Tatapannya naik

