Ruangv tengah itu kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang menekan, seolah setiap sudut rumah ikut mendengar percakapan yang baru saja terjadi. Jevan masih memegang testpack itu. Tangannya kaku. Pandangannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya ia meletakkan benda kecil itu di atas meja, seolah jarak sekecil apa pun darinya bisa membuat pikirannya sedikit lebih ringan. Vania berdiri di depannya dengan bahu gemetar. Air mata terus jatuh, membasahi pipinya tanpa bisa ia kendalikan. “Van…” Jevan akhirnya membuka suara, suaranya rendah dan hati-hati. “Dengar Papa baik-baik, ya.” Vania mengangkat wajahnya. Matanya merah, napasnya terputus-putus. “Papa mau bilang apa lagi?” suaranya pecah. “Aku sudah hamil… ini bukan hal kecil.” Jevan menghela napas panjang. Ia melangkah m

