Vania turun ke lantai bawah dengan langkah pelan. Tangannya berpegangan pada pegangan tangga, napasnya diatur sedalam mungkin. Sejak sore tadi kepvalanya masih terasa berat, perutnya melilit tanpa alasan yang jelas. Bau apa pun terasa lebih tajam dari biasanya. Begitu kakinya menginjak lantai ruang makan, aroma masakan langsung menyergap hidungnya. Gulai. Vania berhenti melangkah. Jelita yang sudah duduk di kursi ruang makan langsung menoleh. Wajahnya cerah, jelas sedang dalam suasana hati yang baik. “Van,” panggil Jelita sambil berdiri. Ia berjalan mendekat lalu menarik tangan Vania lembut. “Ayo, makan. Aku tadi pesan makanan kesukaan kamu.” Vania menelan ludah. Dadanya mendadak terasa sesak. “Apa?” tanyanya pelan, padahal firasat buruk sudah muncul. Jelita tersenyum lebar, menunj

