Bab 84

1115 Kata

Vania berdiri di ambang pintu kamar beberapa saat, menatap ke arah ruang tengah. Jevan duduk sendirian di sofa, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua siku bertumpu di lutut. Tangannya saling menggenggam, tatapannya kosong menembus lantai marmer seolah pikirannya sedang jauh ke tempat lain. Lampu ruang tengah menyala terang, tapi wajah Jevan justru terlihat lebih muram di bawah cahaya itu. Vania melangkah pelan mendekat. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Perutnya terasa sedikit kencang, ada sehnsasi aneh yang membuatnya tidak nyaman sekaligus gelisah. Bau rumah, yang biasanya biasa saja, malam itu terasa terlalu kuat. Perutnya bergejolak, tenggorokannya terasa asam. Ia berhenti tepat di depan Jevan. “Pa…” Jevan mendongak cepat. Begitu melihat Vania berdiri di depannya, ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN