Vania memasuki rumah dengan langkah pelan, matanya masih bersinar dari kebahagiaan yang baru saja ia rasakan di dalam mobil. Jevan berjalan di belakangnya, matanya tetap waspada ke segala arah. Lampu ruang tengah menyala begitu mereka masuk, memberi kehangatan yang berbeda dari malam kota yang dingin. “Vania, ke kamar dulu. Ganti pakaian tidur. Aku ingin semuanya rapi sebelum Jelita pulang,” suara Jevan tenang tapi tegas. Vania mengangguk kecil, matanya menatap Jevan sebentar sebelum berbelok menuju kamar. Ia bisa merasakan tatapan Jevan mengikuti langkahnya, memastikan gadis kecil yang menjadi sesuatu lebih dari sekadar sahabat putrinya itu aman. Setelah pintu kamar tertutup, Vania menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa hangat dari perjalanan tadi, dari sentuhan tangan Jevan yan

