Bab 76

808 Kata

Mobil melaju stabil di jalan yang mulai lengang. Lampu-lampu kota berbaris seperti garis panjang yang tidak pernah putus, memantul di kaca depan. Suara mesin terdengar pelan, nyaris tenggelam oleh keheningan yang menekan di antara mereka. Vania duduk diam, tangannya terlipat di pangkuan. Beberapa kali matanya melirik ke samping, mencuri pandang pada wajah Jevan yang terlihat serius. Rahangnya tegang, alisnya sedikit berkerut, seolah pikirannya masih tertinggal di taman tadi. Vania menarik napas pelan. Dadanya naik turun, lalvu ia mengembuskan udara itu perlahan, seakan sedang menguatkan diri. “Papa…” panggilnya akhirnya, suaranya rendah, hampir ragu. Jevan menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Kenapa?” Vania menggigit bibir bawahnya. Ada jeda sebelum ia kembali bicara. “Aku m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN