Keluar dari area bioskop, langkah mereka melambat tanpa disadari. Mall itu semakin lengang, hajnya suara musik pelan dari speaker dan langkah pengunjung yang tersisa. “Lapar?” tanya Jevan sambil melirik jam tangannya. Vania mengangguk jujur. “Sedikit. Atau… mungkin banyak.” Jevan tersenyum. “Bagus. Aku sudah menyiapkuan tempat.” “Papa selalu menyiapkan semuanya ya?” Vania menoleh, nada suaranya ringan tapi hangat. “Tidak selalu,” jawab Jevan. “Tapi untuk malam ini… iya.” Mereka berhenti di depan sebuah restoran Jepang yang tidak terlalu besar, tapi terlihat nyaman. Lampu kuning hangat menerangi interiornya. Ada tirai kain di pintu masuk, dan aroma khas kaldu serta panggangan langsung menyambut begitu mereka masuk. Vania melihat sekeliling. “Tempatnya nyaman sekali.” “Tenang,” kata

