Malam itu rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Suara pintu depan yang tertutup sejak sore tadi masih menyisakan keheningan yang ganjil. Jelita sudah pergi lebih dulu, entah untuk bertemu Andrew atau sekadar menghabiskan waktu di luar. Vania berdiri di dekat jendela kamar, menatap halbaman yang mulai gelap, lampu taman menyala satu per satu. Langkah kaki terdengar mendekat. Jevan berhenti di ambang pintu kamar Vania, bersandar sebentar, seolah memastikan suasana benar-benar aman untuk percakapan yang akan ia mulai. “Vania,” panggilnya pelan. Vania menoleh. “Iya?” Jevan masuk beberapa langkah, menutup pintu kamar tanpa menguncinya. Tangannya masuk ke saku celana, sikapnya terlihat santai, tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan niatnya. “Jelita sudah pergi,” kata Jevan. “Iya,

