Halaman belakang rumah itu terasa sunyi. Angin sore berembus pelan, menggerakkan daun-daun mangga yang tumbuh di dekat pagar. Sinar matahari sudah condong, cahayanya jatuh miring dan menciptakan bayangan panjang di lantai batu yang mulai dingin. Jevan duduk sendiri di kursi kayu. Tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu di paha, kedua tangannya saling menggenggam erat. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik yang bahkan tidak ia sadari. Sejak sore, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. “Papa?” Suara itu membuat Jevan tersentak. Ia menoleh cepat dan mendapati Jelita sudah berdiri di sampingnya. Refleks, Jevan langsung bangkit setengah berdiri dan memeluk putrinya erat, seolah ia baru saja kehilangan pegangan lalu menemukannya kembali. “Papa?” Jelita tertawa kecil. “Kok kag

