Vania yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh ketika pintu depan terbuka. Suara langkah kaki terdengar, disusul suara Jelita yang terdengar ceria. “Papa, aku pulang.” Namun yang membuat Vania sedikit terkejut adalah sosok wanita berusia senja yang berjalan di belakang Jelita. Rambutnya sudah memutih semuanya, wajahnya penuh garis usia, tapi sorot matanya masih tajam dan tenang. Cara jalannya pelan tapi tegap, seperti orang yang terbiasa membawa wibawa tanpa perlu banyak bicara. Jelita langsung menarik tangan Vania begitu melihat sahabatnya berdiri. “Van, sini,” katanya dengan senyum lebar. “Ini Nenek aku. Ibunya Papa.” Vania refleks menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka hari ini akan bertemu dengan ibu Jevan. “Nek,”

