Mirna memperhatikan Vania dengan saksama sejak mereka duduk di meja makan. Sup daging yang ia pesan masih mengepul, aromanya memenuhi ruang makan. Namun Vania justru tampak semakin pucat. Sendoknya bergerak pelan, lalu berhenti. Tangannya yang satu lagi tanpa sadar menempel di perutnya, mengusap pelan seolah mencoba menenangkan sesuatu di dalam sana. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Mirna akhirnya, suaranya tenang tapi penuh perhatian. Vania tersentak kecil. Ia cepat-cepat menarik tangannya dari perut, lalu memaksakan senyum. “Tidak apa-apa, Nek. Cuma… kurang enak badan sedikit.” Mirna mengangguk pelan, tapi matanya tidak lepas dari wajah Vania. Ia melihat cara napas gadis itu sedikit pendek, cara bahunya naik turun seperti menahan mual. Mirna bukan orang yang mudah dibohongi oleh bahasa tu

