Vania duduk di meja dapur dengan sebilah pisau kecil di tangannya. Di depannya ada dua buah mangga muda yang sudah dikupas seteengah. Kulit hijau itu tergeletak di piring kecil, sementara irisan mangga yang masih keras dan pucat tertata di piring lain. Di sampingnya, ada mangkuk kecil berisi garam. Ia memotong satu irisan lagi, lalu mencelupkannya ke garam dan langsung menggigitnya. Tidak ada raut meringis. Tidak ada gerakan menahan asam. Vania justru mengunyah pelan, lalu mengambil potongan berikutnya. Mirna yang sejak tadi berdiri di dekat pintu dapur menghentikan langkahnya. Ia mengamati Vania dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya. Alisnya terangkat sedikit. “Kamu tidak merasa masam?” tanya Mirna akhirnya, suaranya terdengar datar, tapi jelas penuh perhatian. Vania ter

