Mirna mengusap rambut cucunya dengan lembut. Telapak tangannya bergerak pelan di kepala Jelita, seperti kebiasaan lama yang selalu ia lakukan sejak Jelita kecil. Jelita tersenyum, sedikit memiringkan kepala, menikmati sentuhan itu. “Nenek, Vania itu baik banget,” kata Jelita sambil bersandar di lengan Mirna. “Aku sedih lihat dia akhir-akhir ini. Kelihatan sering sakit, pucat terus. Padahal biasanya dia yang paling cerewet di rumah.” Mirna hanya mengangguk kecil. Wajahnya tetap tenang, tapi di dalam kepalanya, pikigran-pikiran yang tidak menyenangkan terus berputar. “Iya,” jawab Mirna singkat. “Nenek juga lihat dia kelihatan tidak sehat.” Jelita menghela napas. “Aku takut kenapa-kenapa sama dia. Kalau Vania kenapa-kenapa, aku pasti sedih banget.” Mirna memandang wajah cucunya lama. Ada

