Beberapa hari setelah percakapan di ruang makan itu, suasana rumah berubah menjadi lebih sibuk. Bukan lagi sunyi yang penuh rahasia, tapi sunyi yang penuh persiapan. Vania duduk di meja makan dengan laptop terbuka, jemarinya bergerak pelan di touchpad. Di layar, terbuka beberapa tab: wedding organizer, vendor dekorasi, daftar gedung, katering, sampai perias pengantin. Jevan duduk di sampingnya, lebih banyak mengawasi daripada benar-benar memilih. Tatapannya sesekali jatuh ke wajah Vania yang terlihat fokus, tapi juga masih menyimpan sisa kelelahan. “Kita nggak usah yang terlalu besar,” kata Jevan pelan. “Yang penting sah dan jelas.” Vania mengangguk. “Aku juga nggak mau terlalu ramai. Tapi… tetap rapi dan layak.” Ia menoleh ke arah Jevan. “Aku nggak mau orang ngomong macam-macam.” Je

