Jelita duduk sendirian di tepi ranjangnya, menatap kosong ke arah jendela. Tirai bergerak pelan tertiup angin malam, tapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suara apa pun di luar sana. Ia sudah tahu. Sudah mendengar langsung dari mulut papanya. Tidak ada lagi dugaan, tidak ada lagi potongan puzzle yang hilang. Kebenaran itu utuh, bulat, dan terlalu berat untuk diterima begitu saja. Vania hamil. Dan ayah dari anak itu adalah papanya sendiri. Jelita memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan satu hal yang paling mengganggunya: Vania tinggal di rumah itu karena dirinya. Ia yang mengajak. Ia yang membujuk Papa agar Vania boleh menumpang ketika kondisi Vania sedang sulit. “Aku yang bawa dia masuk ke hidup kita,” gumam Jelita pelan. Dan se

