Jevan duduk sendirian di ruang kerja, lampu meja menyala temaram. Di luar jendela, langit sore menggantung dengan warna abu-abu yang lelah. Ia mebnghela napas untuk kesekian kalinya, seperti berharap udara yang keluar dari dadanya bisa membawa pergi beban yang sejak beberapa minggu terakhir menempel di kepalanya. “Ini nggak bisa ditunda,” gumamnya pelan. Ia menatap layar ponsel yang gelap, lalu menaruhnya kembali di meja. Tangannya meremas jembatan hidung, mencoba menenangkan diri. Setiap kali memikirkan wajah Jelita, dadanya mengencang. Putrinya itu bukan anak kecil lagi. Ia peka, cerdas, dan—yang paling membuat Jevan takut—ia sangat jujur dalam bereaksi. Sekali kecewa, Jelita tidak akan menutupinya dengan senyum pura-pura. Di sisi lain rumah, Vania duduk di tepi ranjang, memeluk banta

