Vania mengeram kesal di dalam kamar, memeluk bantal sambil menatap langit-langit. Kepalanya penuh dengan rencana-rencana kecil yang harus ia kubur sendiri. Sejujurnya, ia ingin sekali mendandani Jelita dengan pakaian serba Hello Kitty— kaos longgar warna pastel, hoodie dengan gambar kucing itu, bahkan mungkin topi lucu yang pernah mereka lihat di etalase mall. Tapi ia tahu betul, kalau sampai ia merengek minta itu sekarang, Jelita justru akan makin curiga. “Kenapa kamu tiba-tiba kepikiran yang lucu-lucu begitu?” suara Jelita terngiang di kepalanya, lengkap dengan tatapan menyelidik yang akhir-akhir ini sering muncul. Vania menghela napas panjang. “Aduh, Van… kamu ini bikin masalah buat diri sendiri,” gumamnya. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di kamar. Perutnya terasa tidak nyaman—buk

