Bab 95

1166 Kata

Jelita duduk di depan Andrew di kafe kecil dekat kampus, memandangi cangkir tehnya yang sudah tinggal setengah. Ia menghela ncapas lagi—untuk kesekian kalinya sejak mereka duduk. Andrew yang duduk di seberangnya akhirnya mengangkat wajah dari ponselnya dan mengerutkan kening. “Kamu kenapa, sih? Dari tadi napas kamu panjang terus,” tanyanya lembut. Jelita mengangkat bahu, lalu tersenyum tipis yang lebih mirip kelelahan. “Aku lagi kepikiran satu hal di rumah.” Andrew menyimpan ponselnya. “Tentang apa?” “Vania,” jawab Jelita singkat. Andrew mengangguk kecil. “Kenapa sama sahabatmu itu?” Jelita mengaduk teh pelan, menatap pusaran kecil yang terbentuk di permukaannya. “Belakangan ini dia aneh. Mudah mual, cepat capek, selera makannya berubah. Dulu dia benci semangka kuning, sekarang malah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN