Jelita berdiri di ruang tengah dengan tas kecil di tangannya. Wajahnya tampak antusias, seperti anak kecil yang baru saja dapat ide seru. Ia menatap papanya yang sedang duduk membaca berkas, lalu melirik Vania yang duduk di sofa dengan wajah agak pucat. “Pa,” kata Jelita, suaranya cerah, “aku mau izin. Minggu depan aku sama Vania mau ikut camping di pibnggir kota. Teman-teman kampus juga ikut. Cuma dua hari satu malam.” Jevan mengangkat wajahnya. Sekilas ia menatap Jelita, lalu pandangannya bergeser ke Vania. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab. “Kamu boleh,” kata Jevan akhirnya, “tapi Vania nggak.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa basa-basi. Jelita mengerutkan kening. “Hah? Kenapa cuma Vania yang nggak boleh ikut?” Vania yang sejak tadi diam langsung menegang. Tangannya refleks s

