Jelita berhenti melangkah ketika melihat Vania duduk di meja makan kecil dekat jendela, memegang semangkuk potongan semangka kuning. Bukan semangka merah, tapi yang kuning—yang selama ini selalu ditolak mentah-mentah oleh Vania. Bahkan dulu, Jelita ingat betul, Vania pernah memindahkan piring hanya karena ada semangka kuning di situ. Sekarang? Vania memakannya pelan, satu potong demi satu potong. Tidak ada ekspresi jijik. Tidak ada wajah meringis. Hanya wajah pucat yang tampak lebih tenang setelah beberapa suapan. Jelita berdiri mematung beberapa detik. Dadanya terasa sedikit mengencang, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ada terlalu banyak hal kecil yang belakangan ini terasa tidak biasa: Vania sering mual, gampang capek, tiba-tiba suka yang asam, seka

