Vania duduk di ruang tengah bersama Jelita, mencoba terlihat setenang mungkin. Televisi menybala, tapi sejak tadi ia tidak benar-benar memperhatikan apa pun yang ada di layar. Tangannya beberapa kali bergerak tanpa sadar ke perutnya, lalu ia cepat-cepat menurunkannya lagi setiap kali merasa tatapan Jelita bisa saja mengarah padanya. Di kepalanya, cuma ada satu hal: mangga muda. Dan kedondong. Rasanya seperti ada yang menarik-narik dari dalam. Mulutnya terasa penuh air liur hanya dengan membayangkan rasa asam yang segar itu. Tapi ia juga tahu, kalau ia tiba-tiba minta buah asam di depan Jelita, pertanyaan pasti akan datang. Dan Vania belum siap menghadapi tatapan curiga sahabatnya itu. Jevan duduk tidak jauh dari mereka, membuka tablet, sesekali menjawab pesan kerja. Jelita bersandar di

