Langkah Vania pelan ketika dia membuka pintu kamar Jevan. Engsel pintu tidak berbunyi, seolah ikut memahami niatnya yang tidak ingin mengganggu. Cahaya lampu koridor yang temaram menyelinap masuk, cukup untuk memperlihatkan sosok Jevan yang masih terbaring di ranjang besar itu. Jevan tidur telentang, satu lengannya terlipat di atas perut, napasnya teratur. Wajah pria itu terlihat lebih lembut saat terlelap, tidak setegas ketika terjaga. Garis rahangnya jelas, alisnya sedikit berkerut seolah pikirannya belum benar-benar beristirahat. Vania berdiri di ambang pintu beberapa detik, ragu. “Aku cuma lihat sebentar,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Dia melangkah masuk dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Kakinya terasa dingin menyentuh lantai marmer. Setiap langkah diambilnya pe

