Bab 09

1217 Kata

Vania duduk di kursi di seberang Jevan dengan punggung tegak namun tangan saling meremas gugup di pangkuannya. Ujung jarinya dingin, detak jantungnya terlalu cepat. Ia menunduk, lalu mendongak, lalu menunduk lagi. Tanpa sadar, giginya menggigit bibir bawahnya pelan—seolah itu satu-satunya cara menahan perasaan yang ingin meledak. Jevan memperhatikannya. Tatapan pria itu tidak keras, tapi cukup tegas. “Vania,” ucap Jevan pelan, namun langsung membuat Vania menghentikan kebiasaan kecilnya. “Jangan gigit bibirmu.” Vania tersentak. Ia mengangkat wajah, matanya bertemu mata Jevan. “Kenapa?” tanyanya lirih, hampir seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. “Papa tidak mau kamu terluka,” jawab Jevan singkat. Nada suaranya tenang, tapi mengandung kekhawatiran yang tulus. Vania

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN