Malam itu Jevan memutuskan keluar rumah. Bukan tanpa alasan. Ia sudah terlalu sering makan malam di ruang makan rumahnya yang sunyi, hanya ditemani suara alat makan dan televisi yang terus menyala. Kali ini ia ingin suasana lain. Sekalian mengajak Jelita, dan tentu saja Vania. Mobil hitam Jevan meluncur tenang di jalan kota. Jelita duduk di kursi belakang, sibuk menatap lampu-lampu gedung tinggi dengan wajah berbinar. Vania duduk di samping Jevan, diam, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya kacau. “Papa,” suara Jelita riang memecah keheningan. “Kita mau makan di mana?” “Restoran,” jawab Jevan singkat. “Restoran biasa atau yang mahal?” tanya Jelita lagi tanpa beban. Jevan melirik kaca spion. “Yang kamu mau.” “Yay,” seru Jelita. “Aku mau yan

