Siang itu halaman kampus terlihat cukup ramai. Matahari tidak terlalu terik, angin berhembus pelan, dan para mahasiswa berjalan keluar masuk gedung kuliah dengan langkah santai. Di salah satu bangku panjang dekat taman kampus, Jelita duduk sambil membuka laptopnya. Di depannya ada beberapa buku dan catatan yang sedang ia baca dengan serius. Namun suasana tenang itu tiba-tiba terganggu. Sebuah jari mencongkel lengannya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Jelita menahan diri beberapa detik, berusaha tetap fokus pada layar laptopnya. Tapi jari itu terus mencongkel lengannya tanpa henti. Akhirnya ia menutup laptopnya dengan agak keras. “Apa?” katanya kesal. Vania yang duduk di sampingnya langsung tertawa kecil. Wanita itu tampak santai sekali. Gaun longgar yang ia kenakan tidak bisa menyem

