Perjalanan pulang dari kafe berlangsung dalam suasana hyang sangat sunyi. Mobil Jevan melaju di jalan kompleks dengan kecepatan normal, tapi udara di dalam mobil terasa jauh lebih berat dari biasanya. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan napas tiga orang yang duduk di dalamnya. Vania duduk di kursi depan dengan tangan memegang sabuk pengaman. Perutnya yang besar terlihat naik turun pelan mengikuti napasnya. Ia beberapa kali melirik ke arah Jevan, tapi lelaki itu tidak menoleh sama sekali. Wajahnya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras, tangannya memegang setir dengan erat. Di kursi belakang, Jelita duduk tegak dengan perasaan tidak nyaman. Ia sudah mengenal papanya sepanjang hidupnya. Ia tahu persis bagaimana ekspresi Jevan ketika sedang menahan marah

