Pagi itu rumah masih terasa cukup tenang. Jam baru menunjukkan pukul delapan, sinar matahari masuk dari jendela ruang tamu, dan udara pagi masih terasa segar. Biasanya pada jam seperti ini Vania masih berada di kamar karena perutnya yang semakin besar membuatnya sulit bangun terlalu cepat. Jevan sudah bangun sejak setengah jam yang lalu dan sedang berada di ruang kerja kecilnyya, memeriksa beberapa dokumen sebelum berangkat ke kantor. Jelita yang pagi itu turun lebih dulu berjalan menuju pintu depan ketika bel rumah berbunyi. Sekali. Lalu dua kali. Ia mengerutkan kening sedikit. “Pagi-pagi sekali,” gumamnya pelan. Biasanya tamu jarang datang sepagi ini. Ia membuka pintu dengan wajah datar tanpa terlalu berharap siapa pun yang menarik. Begitu pintu terbuka, ekspresi Jelita langsung b

