Bab 39

785 Kata

Jevan memasuki rumah dengan langkah tenang. Pintu tertutup tanpa suara keras, seolah ia tidak ingin siapa pun tahu ia sudah pulang. Jasnya ia lepaskan perlahan, diletakkan rapi di sandaran kursi ruang tengah. Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi, hanya suara pendingin ruangan yang bekerja pelan. Matanya langsung terangkat ke arah tangga. Tanpa ragu, Jevan melangkah naik. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Langkahnya terukur, tidak tergesa. Setiap pijakan seolah sudah ia rencanakan. Saat sampai di lantai atas, matanya langsung tertuju pada satu pintu. Kamar Vania. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah kecil. Cukup untuk melihat ke dalam. Jevan berhenti. Tangannya terangkat, menahan napas sejenak. Lalu ia mendekat dan mengintip. Di dalam, Vania duduk di tepi ranjang. Bahunya bergetar. Ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN