Bab 40

1702 Kata

Taman kecil di dekat rumah Jevan sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin bergerak pelan, menggeser dedaunan kering di jalan setapak, sementara matahari mulai condong ke barat. Vania berdiri kaku di bawah pohon flamboyan, kedua tangannya saling menggenggam kuat seolah menahan sesuatu di dadanya agar tidak runtuh. Devan berdiri di hadapannya dengan wajah pucat. Kaosnya sedikit kusut, rambutnya berantakan seperti orang yang baru saja berlari tanpa tujuan dan tidak tahu arah kemana. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena panik yang tidak sempat dia sembunyikan. “Aku tidak tahu siapa perempuan itu, Vania,” ucap Devan dengan suara berat, sedikit serak. “Aku bersumpah. Aku tidak pernah—” “Cukup,” potong Vania cepat. Suaranya tidak keras, justru terlalu tenang. Dan ketenang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN