2

857 Kata
Jantung Elvara berdegup sangat kencang dan begitu cepat sekali. Langkahnya jadi memelan dan napasnya mendadak tercekat dan terasa sesak. "Are u okey, babe?" bisik Altair yang melihat kegelisahan di raut wajah Vara. "Hu um ... A -Aku cuma gak biasa bertemu dnegan sahabatmu. Kamu paham kan? Apalagi dia tidak membawa pasangan, A -aku pasti jadi kambing congek," cerucus Vara menghilangkan rasa gugupnya. Arelio berdiri kembali dan memeluk Altair sahabatnya sambil melirik ke arah Elvara yang ternyata mantan kekasihnya. Arelio mengedipkan satu matanya pada Vara. Ini hal yang biasa dilakukan Lio sejak SMA, menggoda Vara. Pelukan kedua sahabat itu sudah lepas dan Altair memperkenalkan Arelio pada Elvara. "Apa kabar kamu, Lio. Sudah sukses rupanya? Kenalkan ini kekasihku, Elvara, panggil saja Vara," jelas Altair dnegan senyum lebar penuh rasa bahagia. Altair begitu bangga memiliki kekasih cantik dan sangat mempesona seperti Elvara. Beberapa rekan bisnisnya memuji kecantikan Elvara. Begitu juga dengan Arelio yang terus memandangi wajah Vara sambil mengulurkan tangannya, "Arelio." Suara Lio begitu tegas dan penuh obsesi saat menatap Vara yang terlihat semakin dewasa dan cantik. Arelio seperti kembali ke amsa lalu saat ia berkenalan dengan Vara, si kutu buku di depan Perpustakaan. Arelio jatuh cinta lagi walaupun cintanya untuk Elvara tidak pernah berkurang dari hatinya. Kini, malah semakin bertambah hingga seribu persen. "Vara ... Lio sudah mengulurkan tangannya. Apa kamu tidak mau menghargai aku sebagai sahabatnya?" jelas Altair pada Vara dengan tatapan penuh arti. "I -Iya Mas," jawab Vara lembut sambil mengulurkan tangannya pada Arelio. Vara menjabat tangan Arelio dan Arelio menggenggam dengan erat sekali. Tatapannya sama sekali tak berkedip. "Arelio." Lio memngulang kembali menyebut namanya sendiri sambil menatap Vara. "Elvara," jawab Vara singkat. Sumpah, jantung Elvara saat ini, degupannya semakin kencang. Ia berusaha melepas jabat tangannya dnegan Lio. Namun sayang, Lio tidak mau melepasnya sampai suara Altair memecahkan keheningan mereka berdua. "Cantik kan?" tanya Altair pada Lio. "Hmmm .. Kamu pintar mencari wanita," jawab Lio melepas jabat tangannya dan kembali ke kursinya. Altair sudah duduk dan membiarkan Vara duduk sendiri. Sifat Altair seperti inilah yang terkadang membuat Vara bingung. Terkadang lelaki itu manis, perhatian, peka dan sangat memanjakan Vara. Tapi terkadang Altair seperti memiliki sisi gelap yang penuh bara api. "Kamu kembali ingin mencari mantan pacarmu kan? Lalu, Kalau gadis itu sudah memiliki kekasih atau tunangan atau bahkan sudah memiliki suami. Kamu bakal berbuat apa, Lio?" tanya Altair sambil mengambil satu buah daging steak ke piringnya. Llau memotong bagian dagingnya dan dimasukkan ke dalam mulut. Tubuh Elvara terasa menegang hebat mendengar pembicaraan dua lelaki itu. Bayangkan saja, yang satu kekasihnya dan yang satu mantan kekasih terindah yang tak pernah bisa Vara lupakan sampai detik ini. Arelio melirik ke arah Vara sekilas sambil tersneyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Altair, sahabatnya, "Aku akan membawanya pergi. Kalau perlu kutawan dia agar dia tidak bisa kemana -mana." "Gila. Masih saja kamu terobsebsi dengan mantan pacarmu itu. Secantik apa sih dia?" ucap Altair tertawa keras seolah mengejek Lio. "Cantik mana dengan Varaku?" imbuh Altair cepat kepada Lio. Lio hanya diam. Ia tidak menjawab dan hanay melirik sekilas ke arah Vara yang tetap diam menunduk sambil meneguk air dari gelasnya. "Cantik Varamu, tapi mantanku juga tidak kalah cantik jika ia berdandan seperti Varamu saat ini. Atau mungkin lebih cantik lagi," jelas Lio. Lio mengambil kentang goreng yang ia pindahkan ke piringnya. "Eum ... Mas, Aku mau ke kamar mandi dulu ya?" ucap Vara meminta ijin pada sang kekasih. "Iya sayang," jawab Altair singkat. Vara segera berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk mencari kamar mandi. Sebenarnya Vara tidak sedang kebelet buang air kecil. Hanya dirinya benar -benar tidak sanggup berada di antara keduanya. "Kamu tampan seklaa Lio. Kamu berbeda dengan Lioku yang dulu ..." ucap Vara lirih. Vara masih menatap wajahnya ke cermin. Ia bernapas dalam dan dihembuskan secraa kasar. Ia lakukan berulang kali, agar degup jantungnya kembali normal. Tiba -tiba saja, Vara mendengar suara Lio di luar yoilet yang ia pakai. Suara itu nampak jelas dan kencang. Dengan penuh percaya diri Lio masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Vara yang berdiri dnegan tatapan bingung. Lio menarik tangan Vara dan masuk ke salah satu bilik kamar mandi dan menutup lalu menguncinya dnegan rapat. "Lio ..." ucap Vara spontan. Lio tersenyum miring. Ia sennag mendengar suara Vara yang lembut dan setenagh serak itu. "Kamu masih mengingatku Vara sayang ..." Lio merapatkan tubuhnya ke tubuh Vara yang sudah terjebak di dinding kamar mandi. Lio langsung mencium bibir Vara tanpa meminta ijin dulu. Kedua tangan Vara dipegang erat oleh Lio di bagiuan pergelangan tangan yang dinaikkan ke atas kepala Vara agar Vara tidak bisa berontak. Lio mencium Vara dengan penuh kelembutan membuat Vara yang benar-benar rindu pada Lio pun sama seklai tidak memberontak. Setelah beberapa menit. Lio melepas ciuman itu dan menatap Vara yang napasnya mulai tersengal. "Ciumanmu sungguh baik. Not bad, sepertinya LAtair mengajarkan kamu banyak hal. Dan aku hanya mendapatkan sisanya saja," ucap Lio dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan. Vara menggelengkan kepalanya, "Lio, kamu salah." "Aku salah? Kamu lupa pada janjimu? Kamu akan menungguku?" ucap Lio sinis. Lio langsung menyerbu kembali bibir Vara dan kali ini lebih kasar dan beringas hingga Lio berani menggigit bibir Vara bagian bawah sampai Vara mengerang kesakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN