Vara mengumpulkan tenaganya dan mendorong tubuh Lio dengan keras. Tubuh Lio langsung bergerak mudur. Pelukan erat di pinggang kecil Vara terlepas begitu saja.
"Cukup Lio!" ucap Vara dengan suara penuh amarah.
"Kenapa? Kamu takut? Takut apa yang kita lakukan ketahuan oleh Altair?" tanya Lio dengan senyum penuh arti.
Kedua mata Vara menatap lekat ke arah Lio. Rasanya ingin marah dan menangis. Tapi, jujur ciuman yang terakhir adalah ciuamn penuh amarah. Vara bisa merasakan itu. Karean dulu pernah terjadi juga saat Lio cemburu pada Vara yang terpaksa dekat dengan laki-laki yang menjadi juara umum di Sekolahnya.
"Ini gak bener Lio," ucap Vara lirih.
"Gak bener? Kamu itu masih pacarku, Vara! Aku tidak pernah memutuskan kamu!" tegas Lio penuh dendam amarah.
Seketika kedua mata Vara membulat. Entahlah, ia tidak bisa mencerna ucapan Lio dengan baik. Kenapa Lio bisa bicara seperti itu.
"Dasar orang aneh!" ucap Vara dengan cepat.
Vara ingin keluar dari bilik kamar mandi itu. Tangannya sudah memegang kunci dan terdengar suara Altair memanggil namanya.
"Vara? Kamu dimana?" panggil Altair yang terdengar mendekat ke arah bilik.
Vara panik sekali. Berbeda dengan Lio yang terlihat santai tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Lio memegang lengan Vara membuat Vara menoleh ke arah Lio. Wajah gelisah Vara terlihat dengan jelas.
"Gak usah panik. Ikuti aku," ucap Lio yang kemudian menarik tubuh Vara ke belakang. Lio naik ke atas kloset yang sudah ditutup dan Vara duduk di kloset yang tertutup.
Lio membisikkan kalimat yang harus diucapkan Vara agar Altair tidak curiga padanya.
"Vara! Kamu dimana?" panggil Altair pada Vara.
"Aku disini. Belum selesai Altair. Perutku sakit," teriak Vara dengan nada suara setenang mungkin. Walaupun diujung kalimat sebenarnya suara itu terdengar bergetar karena takut.
Tok ... Tok ... Tok ...
Altair mengetuk pintu kamar mandi dimana Vara ada di dalamnya.
"Kamu disini?" tanya Altair sambil mendekati telinganya di pintu kamar mandi.
"Iya Mas Al," jawab Vara sedikit lebih keras.
"Ya sudah kalau begitu. Cepat keluar Vara," titah Al pada Vara.
"Iya Mas Al. Sebenatr lagi," jawab Vara agak gugup.
Altair memilih keluar dari toilet wanita itu. Jangan sampai ia digeruduk satpam atau karyawan restoran karena masuk ke toilet wanita.
Keluar dari kamar mandi, Altair mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut restoran. Ia mencari Lio yang tiba -tiba saja menghilang sejka ijin menerima telepon tadi.
Telapak tangan Lio menepuk bahu Altair, sahabatnya.
"Kamu ngapain Al?" tanya Lio dengan tatapan penuh arti.
"Eh Lio ... Aku cari kamu dari tadi," ucap Altair menatap Lio yang sepertinay berasal dari taman belakang.
"Aku disana tadi sambil teelpon dari klien," jelas Lio yang tentu saja berbohong pada Altair.
Altair menatap arah yang ditunjuk Lio da ia langsung percaya. Ia tahu, Lio adalah anak yang sangat jujur sekali. Mereka tumbuh bersama dalam waktu yang cukup lama.
"Mas Al? Kamu masih disini. Maaf kalau aku lama," ucap Vara dengan tenang dari arah kamar mandi wanita yang berada di ujung restoran.
"Gak apa -apa sayang," ucap Altair dengan lembut. Altair mengamati wajah Vara yang nampak berubah. Ya, tepat di bagian bibir yang terlihat agak bengkak dengan lipstik yang warnanya mulai samar.
"Kenapa Mas? Kamu lihatin aku begitu?" tanya Vara bingung.
"Enggak. Bibir kamu kenapa? Agak bengkak gitu?" tanya Altair penasaran.
Lio ikut menatap Vara dengan senyum tipis nyaris tak terlihat. Ia bangga, ada perbuatan nakalnya yang meninggalkan jejak di bibir Vara.
Vara memegang bibirnya dan mencoba memikirkan alasannya. tentunya ia harus mencari alsan yang tepat sekali.
"Oh ini ... Tadi aku di kamar mandi agak susah mengeluarkan itu. Aku menggigit bibirku malah jadi begini," jelas Vara tetap dnegan nada tenang. Padahal jantungnya ingin lepas dari tubuhnya saat itu juga.
"Oh ... Makanya kamu makan sayur yang banyak Vara. Bukan malah makan seblak saja, gak sehat," titah Altair pada Vara.
"Iya sayang. Nnati aku akan coba makan sayur walaupun sulit," jelas Vara sambil mengalungkan tangannya ke lengan Altair.
Vara sengaja melakukan itu agar Lio tahu, dirinya sangat cinta pada Altair. Tidak ada alasan untuk kembali ke masa lalu. Saat itu, Lio sama sekali tidak mempertahankan Vara.
Tatapan Lio begitu sinis ke arah Vara dan mendengus kesal penuh rasa cemburu. Sial, ciuman itu malah membuat candu umpat Lio di dalam hati.
Altair, Lio dan Vara kembali ke ruang VIP untuk menikmati makan malam mereka yang smepat tertunda. Altair dan Lio begitu asik bercerita tentang kesuksesan mereka.
Malam semakin larut. Vara benar-benar seperti kambing congek. Ia hanya diam mengamati kedua lelaki yang sedang berbicara secara dewasa.
"Mas ..." panggil Vara tiba-tiba dengan wajah muali tak nyaman.
"Hmm ... Kenapa Var?" tanya Altair menoleh ke arah Vara.
"Aku mau pulang sekarang. Aku ngantuk banget," jawab Vara sambil merubah posisi duduknya.
Altair melihat ke arah pergelangan tangannay untuk memastikan ini pukul berapa. Sedangkan Lio melnatap Vara dengan lekat. Gadis itu hanya butuh perhatian bukan benar-benar ngantuk.
"Vara ... Aku sedang janji dengan seseorang. Aku lagi nunggu. Bisa nunggu sebentar lagi. Lagi pula, kedua orang tuamu juga gak ada. Kamu tenang saja," ucap Altair santai.
"Mas ... Aku ngantuk," ucap Vara cepat. "Kalau kamu gak mau pulang. Aku bisa pualng sendiri," jelas Vara lagi.
"Vara ... Kamu kenapa sih? Mendadak jadi keras kepala seperti ini?" ucap Altair dengan nada sedikit meninggi.
"Aku ngantuk Mas. Aku mau istirahat," jelas Vara tak mau kalah.
"Vara!" teriak Altair penuh emosi.
"Sudah Al. Biar aku antar Vara pulang," ucap Lio menengahi.
Altair menatap Lio tiba-tiba sambil mengerutkan keningnya.
"Ekhem ... Aku juga mau pulang karena asistenku baru saja kirim pesan, kalau ada kerjaan baru disini. Next time kita ketemu lagi dan ngobrol kayak gini," ucap Lio yang sudah berdiri dan bersiap untuk pulang.
Waktu kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lio tahu betul, Vara memang tidka suka pulang malam. Ia lebih suka dirumah dan nonton drakor kesayangannya. Sepuluh tahun berlalu ternayata tidak merubah apapun tentang Vara.
"Kamu yakin mau antarkan Vara pulang?" tanya Altair memastikan.
"Iya. Kenapa tidak? Kalau kamu memang masih ada acara? Aku antarkan kekasihmu sampai rumah dengan selamat," jelas Lio sambil melirik Vara dengan lirikan penuh arti.
"Enggak usah. Vara bisa naik taksi, Mas. Gak perlu diantarkan," jelas Vara bersikeras.
"Vara, Lio ini sahabatku. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi gak ada alasan aku atau kamu gak percaya sama dia," jelas Altair dnegan begitu tegas.
Vara menghembuskan napasnya dengan kasar lalu menatap ke arah lain. Pilihan dan keputusan yang sangat menyebalkan seklai. Kalau seperti ini. Ia tidak akan pernah bisa move on dari Lio.