Denda Yang Memberatkan

1286 Kata
“Nona Ireshi Kiana …!” ucap Ishan sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Pria itu kemudian menyandarkan punggung di kursi kebesarannya sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang mengandung arti, sedangkan Iresh langsung menundukkan kepalanya karena gugup harus berada di situasi yang tidak pernah dia inginkan. “Matilah aku, kenapa harus dia yang jadi CEO di sini?” tanya Iresh dalam hati. Gadis itu sudah pasrah dengan nasib yang akan menimpanya. Dia sangat yakin jika pria yang ada di hadapannya ini pasti akan langsung memecatnya sebelum dia mulai bekerja sama sekali. Tidak di pungkiri jika saat ini Iresh sangat gugup ketika tahu jika CEO-nya adalah pria yang tadi pagi dia bantah dan lawan melalui ucapannya. “Pergilah …!” ujar Ishan. Rose dan Iresh pun langsung berbalik berniat untuk keluar dari ruangan sang CEO karena permintaan dari pria tersebut. Namun, tiba-tiba saja terdengar kembali suara Ishan. “Tunggu …!” cegah Ishan. Kedua perempuan itu pun secara bersamaan menghentikan langkah kakinya dan kemudian berbalik menghadap ke Ishan lagi. Mereka juga menatap ke arah pria yang sedang duduk dengan angkuhnya di kursi kebesarannya. “Siapa yang menyuruh kamu pergi?” tanya Ishan bernada dingin sambil menatap tajam ke arah mata biru milik Iresh. Untuk sejenak Ishan sempat tertegun melihat mata biru kristal milik salah satu karyawannya tersebut. Dia tidak asing dengan mata bening perempuan itu. Namun, dia tidak berani langsung menyimpulkannya karena keadaan pada malam itu sangat gelap dan dia bisa melihat mata gadis yang hendak menolongnya dari pantulan cahaya lampu jalan yang tidak terlalu terang. “Tadi Anda yang meminta kami pergi,” jawab Iresh dengan sopan. Baru saja dia bisa bernapas lega, tapi tidak sampai satu menit jantungnya sudah dibuat berpacu cepat kembali. Jika pria itu ingin mempermasalahkan sikapnya tadi pagi, dia sudah siap karena memang semua adalah resiko yang harus dia terima. Sikap perempuan itu sangat berbading terbalik dengan tadi pagi. Sekarang Ishan melihat Iresh seperti karyawan yang lainnya, berbicara sopan dan menghormatinya. Tentu saja mana mungkin dia akan membiarkan perempuan itu pergi begitu saja darinya. “Rose, tinggalkan kami berdua!” pinta Ishan kepada sekretarisnya. “Baik, Pak,” balas Rose dengan sopan dan bergegas pergi keluar dari ruangan atasannya. Sepeninggal Rose, Ishan kembali mengarahkan pandangannya kepada Iresh. Bahkan, pria itu dapat melihat perempuan yang ada di hadapannya ini terlihat gugup sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Apa sekarang kamu mulai takut kepadaku? Sampai-sampai kamu nggak berani menunjukkan wajahmu itu, hhmm?” tanya Ishan dengan nada yang terkesan mengejek. Pria itu berkata sambil berjalan mendekat ke arah Iresh sambil tersenyum smirk. Ke mana gadis yang tadi dengan lantang selalu membantah ucapannya? Iresh langsung mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Dia melihat Ishan sedang berjalan ke arahnya dengan perlahan sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang terlihat mengerikan. Kaki gadis itu tanpa sadar langsung melangkah mundur, hingga kakinya tidak bisa melangkah lagi karena ternyata tepat di belakangnya ada dinding. Namun, Ishan tetap melangkah maju semakin memangkas jarak di antara mereka. Tentu saja melihat itu Iresh merasa semakin gugup. Dia pun mencoba melihat ke kiri dan ke kanan ke mana dia bisa menghindar dan menjauh dari pria aneh yang sialnya adalah CEO di tempat dia bekerja. “A … apa yang akan Anda lakukan, Tuan?” tanya Iresh dengan gugup. “Kenapa kamu gugup? Ke mana keberanian kamu tadi pagi?” tanya Ishan balik. Tentu saja dia sangat senang melihat perempuan yang ada di hadapannya ini mulai takut kepadanya. Di dunia ini memang tidak ada satu orang pun yang berani kepadanya apalagi menantangnya. Karena jarak yang begitu dekat di antara mereka, membuat Iresh dapat merasakan hembusan napas yang beraroma mint milik Ishan, sedangkan pria itu tampak diam sambil menatap lekat di dalam manik mata yang membuatnya terpesona. Bola mata Iresh memang cantik dan bisa memikat siapa pun yang menatapnya lebih dari tiga puluh detik. Bahkan, mafia kejam sekelas Ishan saja juga tidak bisa menghindari pesona dari gadis tersebut. Tanpa sadar tangan Ishan terangkat dan menyentuh wajah Iresh yang sangat cantik. Tatapan dan wajah polos perempuan itu telah menyentuh sampai ke hati pria sombong tersebut. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia seakan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Plak …! Iresh menepis tangan Ishan dengan kasar dan membuat pria itu seakan ditarik paksa untuk kembali dari dunianya. Dia juga melihat jika perempuan itu sudah menatapnya dengan tatapan yang lebih nyalang dari tatapannya tadi pagi. “Jangan kurang ajar sama saya! Kalau Anda mencari karyawan plus-plus, Anda salah orang,” ketus Iresh sambil berlalu dari hadapan Ishan berniat untuk keluar dari ruangan tersebut. Meskipun dia sedang membutuhkan perkejaan, tapi dia tidak rela jika diperlakukan rendah seperti ini. Dia bukan perempuan yang bisa menghangatkan ranjang atasannya. Lebih baik dia kehilangan pekerjaannya dari pada harga dirinya direndahkan seperti ini. Lagi-lagi tangan Iresh dicekal oleh Ishan. Pria itu tidak akan membiarkan gadis itu pergi begitu saja karena dia masih belum selesai. “Mau ke mana kamu?” tanya Ishan sambil menatap bola mata biru kristal itu. “Maaf, Pak Ishan. Saya tidak ingin bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh seseorang yang tidak bisa menghargai perempuan apalagi bawahannya sendiri,” balas Iresh dengan penuh penekanan. Perempuan itu sudah tidak peduli lagi karena dia merasa tidak nyaman dengan CEO-nya yang terkesan melecehkan bawahannya. Mungkin banyak dari para karyawan perempuan yang telah menjadi korban pria tersebut, menurutnya. Ishan langsung menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Tampak dengan jelas bagaimana pria itu sedang meremehkan lawan bicaranya. “Kalau begitu kamu sudah siap membayar denda karena pembatalan kontrak kerja secara sepihak,” tutur Ishan menjelaskan. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ishan, tentu saja membuat bola mata Iresh langsung membola dengan sempurna. Dia masih belum bekerja sama sekali jadi mana mungkin dia harus membayar denda yang menurutnya sangat tidak masuk akal. “Jangan mengada-ada, Tuan. Jangan mengatasnamakan denda sebagai alat untuk memeras,” desis Iresh dengan emosi yang tertahan. Bagaimana dia tidak akan emosi jika Ishan terkesan mengada-ada. Apa memang seperti ini cara perusahaan Ishan memeras orang-orang yang tidak berdaya seperti dirinya? “Apa kamu tidak membaca semua pasal-pasal yang tercantum di dalam kontrak kerjamu sebelum kamu tandatangani?” tanya Ishan sambil berjalan mendekati meja kerjanya. Kemudian ia mengambil berkas kontrak yang sudah ditandatangani oleh Iresh. Lalu dia mendudukkan dirinya di ujung meja kerjanya. Setelah itu dia kembali menatap ke arah Iresh dengan tatapan yang terlihat meremehkan. “Baiklah, akan aku jelaskan! Kontrak kerja kamu selama satu tahun dan dalam masa satu tahun itu kamu mengundurkan diri secara sepihak atau tidak menyelesaikan tugasmu, maka kamu harus membayar denda sebesar seratus lima puluh juta rupiah. Apa sekarang kamu mengerti, Nona Iresh?” tutur Ishan dengan panjang lebar. Iresh langsung tertegun mendengar penjelasan yang baru saja keluar dari mulut Ishan. Niat hati ingin mengadu nasib dan mengumpulkan uang yang banyak, tapi pada kenyataannya dia malah harus membayar denda sebesar itu. Ishan tampak tersenyum tipis ketika melihat Iresh tidak dapat membalas ucapannya. Dia yakin jika Iresh tidak punya pilihan selain menerima pekerjaaan tersebut. “Mana mungkin bisa jadi begini?” lirihnya. Seketika Iresh merutuki kebodohannya karena tidak membaca semua kontrak dengan detail. Jika tahu akan manjadi seperti ini mana mungkin dia mau menerima pekerjaan ini. “Ya … Tuhan, bagaimana ini?” tanya Iresh dalam hati. Tentu saja denda yang disebutkan oleh Ishan sangat memberatkannya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayarnya? Namun, jika dia memilih untuk tetap bekerja pasti Ishan akan melecehkannya lagi. Ishan dapat melihat berbagai perubahan raut wajah perempuan yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Lantas ia pun menahan senyum kemenangannya karena melihat Iresh yang tidak bisa berkutik. Memang hal paling mudah untuk mengendalikan orang adalah dengan menggunakan uang, menurutnya. Tentu saja pria sombong itu tidak akan pernah membiarkan orang-orang berani melawannya. Ini adalah hukuman ringan yang dia berikan pada Iresh. “Tanggung sendiri akibatnya karena sudah berani melawanku!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN