“Jadi masih tetap mau membatalkan kontrak?” tanya Ishan sambil memberikan tatapan yang meremehkan kepada Iresh.
“Ya … saya tetap nggak ingin melanjutkan kontrak kerja sama ini, dan tolong kasih saya waktu untuk membayar dendanya,” jawab Iresh dengan penuh keyakinan.
Dia telah memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak yang belum ada sehari dia tanda tangani. Harga diri dan menjaga kehormatannya adalah hal yang paling terpenting di dalam hidupnya. Oleh karena itu, dia akan mencari pekerjaan lain dan akan manabung untuk membayar denda tersebut.
“Nggak bisa! Kamu sediakan uang seratus lima puluh juta rupiah sekarang juga,” pinta Ishan dengan tatapan yang meremehkan.
“Oh … apa Anda sudah bangkrut dan menjadi miskin? Sampai-sampai harus memeras saya seperti ini,” tanya balik Iresh sambil menatap ke arah Ishan dengan tatapan yang meremehkan.
Emosi Ishan benar-benar sudah berada di permukaan karena melihat Iresh yang berani melawan perkataannya. Tadi dia mengira jika dengan denda besar akan membuat Iresh akan menurut apa katanya. Namun, nyatanya gadis itu masih tetap kekeh untuk keluar.
“Apa katamu?” desis Ishan.
CEO tampan itu tidak terima karena dikatakan miskin oleh Iresh. Mana mungkin dia bangkrut hanya karena uang yang tidak seberapa besar baginya itu. Niatnya hanya ingin menekan gadis itu agar menurut apa yang dia katakan. Namun, pada kenyataannya malah membuat Iresh salah paham.
“Kalau begitu kasih saya waktu dan saya pasti akan membayar semuanya hingga lunas. Apalagi seratus lima puluh juta rupiah bukanlah uang yang besar buat Anda, kan?” tanya Iresh balik sambil menatap Ishan dengan tatapan tajam.
Karena egonya merasa tersentil, mau tidak mau akhirnya Ishan pun memberikan waktu kepada Iresh untuk melunasinya. Sebenarnya bisa saja dia membiarkan gadis itu pergi begitu saja, tapi entah kenapa dia ingin mempersulit Iresh karena dia masih kesal dengan sikap gadis itu kepada dirinya tadi pagi.
Biasanya Ishan akan langsung memberikan hukuman yang sangat menyakitkan jika ada yang berani menyinggungnya. Namun, kali ini semuanya seakan berbeda. Dia tampak sengaja ingin membuat perempuan itu kesal kepada dirinya.
Apalagi Iresh mengatai dirinya bangkrut dan jatuh miskin, tentu saja membuat ia merasa sangat tersinggung. Apa perempuan itu tidak tahu seberapa kaya dirinya? Apa Iresh tidak tahu berapa banyak aset yang dia miliki? Bahkan, semua kekayaannya tidak akan pernah habis untuk tujuh keturunannya.
“Baiklah … kerjalah sampai tulangmu remuk, dan jangan sekali-sekali kamu kabur karena aku pasti akan bisa menemukanmu. Kalau sampai itu terjadi aku pasti akan membuat hidupmu menderita,” pungkas Ishan dengan penuh penekanan.
Setelah menemukan kesepakatan untuk membayar denda, maka Iresh pun keluar dari ruangan CEO tersebut. Saat ini perasaannya terasa campur aduk. Pekerjaan tidak jadi dia dapat, malah tiba-tiba saja tertimpa musibah dengan menanggung hutang denda sebesar itu.
Iresh berjalan dengan langkah gontai ketika keluar dari kantor itu. Pikirannya tampak terlihat penuh dengan beban yang membuat dia tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Kerja keras dalam lima tahun pun belum tentu aku bisa melunasi denda itu,” batin Iresh dengan frustasi.
Dia berjalan seorang diri menyusuri trotoar. Hingga tiba di sebuah taman, ia pun mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman. Dia merenung dan berpikir sejenak.
“Aku harus segera mencari pekerjaan supaya bisa segera membayar denda sialann itu,” ucapnya sambil berdiri dari duduknya.
Kemudian dia berusaha mencari lowongan pekerjaan dengan penuh semangat. Dia mencari ke sana kemari dan akhirnya dia mendapatkannya. Gadis itu bekerja di perusahaan yang mengembangkan sebuah sistem di bidang informasi.
Meskipun gajinya tidak sebesar di Eagle Corporate, tapi Iresh sangat bersyukur karena mencari pekerjaan tidaklah mudah.
***
Iresh mulai bekerja di perusahaan Glaze Company. Sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar tapi banyak dikenal oleh banyak orang. Pandangannya tampak terlihat fokus pada komputer yang ada di depannya.
“Jangan terlalu serius nanti kamu bisa cepet tua,” ucap Miska yang sengaja menggoda Iresh.
“Namanya kerja ya harus serius dong, Mis,” balas Iresh tanpa menolehkan kepalanya.
“Ya … kan nanti bisa dilanjutin lagi. Sekarang kita isi amunisi untuk perut dulu,” ajak Miska sambil menunjukkan cengiran khasnya.
Miska memang sengaja menggoda teman barunya karena sekarang merupakan jam makan siang. Oleh sebab itu, dia ingin mengajak Iresh pergi ke kantin atau makan siang di luar kantor.
Mendengar ucapan Miska membuat Iresh langsung melirik ke ujung bawah kanan monitor komputer dan benar saja jika saat ini sudah memasuki waktu makan siang. Maka ia pun menyimpan file yang sedang dia kerjakan sebelum dia mematikan gadget tersebut.
Setelah itu keduanya bergegas pergi ke kantin. Iresh sangat menyukai lingkungan kerja di tempat barunya. Sesama rekan kerja saling bantu dan saling mendukung satu sama lain. Bisa dikatakan jika mereka terlihat kompak. Tidak hanya dalam satu divisi saja, tapi dengan divisi yang lain mereka pun juga terlihat akrab satu sama lain. Mungkin karena jumlah karyawannya tidak sebanyak di Eagle Corporate jadi membuat mereka bisa mengenal satu sama lain.
Setelah sampai di kantin, Iresh dan Miska duduk di tempat kosong. Mereka yang sedang makan di kantin perusahaan tampak berbicang ringan sambil menyantap makan siangnya.
“Hai … Iresh,” sapa seorang pria yang tampak baru saja datang dan langsung mendekat ke arah perempuan itu.
Iresh yang merasa ada yang memanggil namanya dari arah samping, tentunya langsung menolehkan kepalanya. Dia ingin tahu siapa orang yang telah menyapanya itu karena dia masih mengenal rekan yang ada di divisinya saja.
“Oh … hai. Ada apa, ya?” tanya Iresh balik setelah membalas sapaan pria tersebut.
“Kenalin nama gue Juan, gue di bagian HRD,” ucap pria yang diketahui bernama Juan memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.
Iresh pun langsung membalas uluran tangan Juan dan kemudian menjabatnya dengan bibir yang sudah dihiasi oleh sebuah senyuman yang tak kalah ramahnya.
“Gue Iresh, bagian IT,” jawab Iresh dengan ramah.
Juan dapat melihat mata indah milik Iresh. Untuk sesaat dia pun tertegun melihat keindahan yang berada tepat di hadapannya ini.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap ke arah Iresh dan Juan dengan tatapan yang tajam dan seperti sedang menahan kesal.
Letak kantin yang berada di dekat parkiran, membuat seseorang yang baru saja datang dapat melihat dengan jelas interaksi antara Iresh dan pria yang tidak dia ketahui namanya.
“Kenapa dia mudah sekali tersenyum ke pria itu?” batin Ishan.
Entah kenapa dia merasa tidak suka ketika melihat Iresh tersenyum pada pria lain. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia sampai meminta kepada salah satu orang suruhannya untuk memantau gadis itu dari kejauhan dan melaporkan padanya setiap saat.
“Cari tahu siapa laki-laki itu,” pinta Ishan bernada dingin.
“Baik, Pak,” jawab Leo patuh.
Kemudian Ishan pun melangkah menuju ke ruangan CEO Glaze Company dengan langkah mantapnya. Wajahnya yang tampan dan dingin menyita perhatian karyawan perempuan. Namun, mereka tidak ada yang berani menarik perhatian pria dingin dan sombong itu karena mereka tidak ingin mendapatkan masalah di dalam pekerjaannya apalagi hidupnya.
Mereka hanya bisa berbisik-bisik untuk mengangumi ketampanan seorang Ishan Kawindra. Sekarang siapa yang tidak mengenal CEO tampan dan kaya raya itu. Memang identitas Ishan sebagai ketua kelompok Black Eagle memang sangat dia rahasiakan.
Setelah menelepon seseorang, Leo langsung mempercepat langkah kakinya agar bisa sejajar dengan atasannya.
“Tuan, laki-laki tadi bernama Juan Carlos, dia adalah karyawan bagian HRD,” ucap Leo memberi tahu.
“Hhmm …,” sahut Ishan.
Di dunia bawah dia memang terkenal kejam tanpa ampun, sedangkan sebagai seorang CEO perusahaan terbesar di negeri ini, dia merupan sosok pemimpin yang dingin, arogan, dan juga sombong. Namun, karakter Ishan memang sejak dulu adalah seorang pria dingin yang arogan.
“Selama siang, Tuan Ishan,” sapa Hendri dengan ramah.
Investor terbesar perusahaan Glaze Company ternyata adalah Ishan Kawindra. Oleh karena itu, kenapa Hendri sampai bisa patuh dan menurut setiap apa yang dikatakan oleh pria arogan tersebut.
Setelah mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dalam ruangan Hendri, Ishan langsung meminta pria itu untuk memecat salah satu karyawannya setelah mendapatkan laporan dari Leo melalui sebuah bisikan.
“Aku ingin kamu memecat karyawan HRD yang bernama Juan Carlos sekarang juga!”