Pria Pemaksa

1293 Kata
Hendri terkejut ketika mendengar permintaan Ishan. Dia tidak tahu kenapa pria itu memintanya untuk memecat Juan. Padahal karyawannya merupakan karyawan biasa. Di samping itu, Juan juga bukan dari kalangan kelas atas, jadi apa yang membuat Ishan sampai mengincarnya? Apa mungkin karena Juan sudah menyinggung pria yang sangat berkuasa di dunia bisnis itu? “Ta … tapi kenapa, Tuan? Apa dia udah membuat masalah?” tanya Hendri dengan raut wajah yang terlihat bingung. Hendri tidak tahu hal apa yang sudah menyebabkan pria yang ada di hadapannya ini sampai semarah ini. Namun, di dalam benak Hendri sangat menyayangkan karena Juan merupakan karyawan yang tidak pernah membuat masalah di kantor. “Apa aku perlu satu alasan? Panggil dia ke sini!” pinta Ishan dengan suara dinginnya. “Baik, Tuan. Saya panggil dia dulu,” jawab Handri sebelum keluar dari ruangannya. Hendri pergi sendiri untuk mencari salah satu karyawan tersebut. Dia tidak meminta sekretarisnya karena dia sendiri tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Ishan yang tampak sedang menahan emosinya. Pria itu mencari keberadaan Juan di dalam ruangan HRD, tapi tidak menemukan seorang pun di dalam ruangan tersebut. Ia pun bertanya kepada karyawan yang sedang berpapasan dengannya. “Kamu lihat Juan?” tanya Hendri pada salah satu karyawan yang sedang berpapasan dengannya tepat di depan ruangan HRD. “Juan ada di kantin, Pak,” jawan pria yang diketahui bernama Edo. “Cepat panggil dia kemari!” pinta Hendri sebelum masuk ke dalam ruangan HRD. Pria itu lebih memilih untuk menunggu di ruangan lain dari pada di ruangannya. Di sana masih ada Ishan dan dia tidak ingin terseret ke dalam emosi pria itu. Selama menunggu Juan datang, hati Hendri tidak tenang karena dia sangat penasaran. Beberapa saat kemudian terdengar ada yang mengetuk pintu ruangan HRD. Tok … tok … tok! “Masuk …!” Detik kemudian pintu pun terbuka dan muncul seorang pria dengan lesung pipi. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah CEO-nya yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Biasanya Juan tidak pernah mengetuk pintu ruangannya sendiri. Namun, berhubung saat ini ada pimpinannya sedang berada di dalam ruangannya, maka ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanan. “Bapak memanggil saya?” tanya Juan setelah berada di hadapan Hendri. “Kamu udah buat masalah apa sama Tuan Ishan? Kenapa dia sampai marah gitu sama kamu?” tanya Hendri bertubi-tubi. Juan tampak kebingungan. Dia tidak pernah bertemu dengan Ishan, jadi mana mungkin dia membuat masalah dengan pria berkuasa itu. “Masalah apa ya, Pak? Saya bingung, karena saya nggak pernah bertemu secara langsung dengan Tuan Ishan,” tanya Juan balik dengan raut wajah yang sudah terlihat kebingungan. Tentu saja dia bingung karena merasa tidak pernah menyinggung Ishan. Jangankan menyinggung pria berkuasa tersebut, bertemu secara langsung dengan pria itu saja dia tidak pernah. “Kalau begitu kita temui Tuan Ishan di ruanganku sekarang. Nanti kita tahu kesalahan apa yang sudah kamu perbuat,” ajak Hendri. Jika berurusan dengan Ishan, dia tidak berani ikut campur karena dia harus melindungi perusahaannya. Bukannya dia egois, tapi ada banyak orang yang harus dia lindungi karena mereka sangat bergantung pada perusahaannya. Tak lama kemudian, Hendri dan Juan sudah sampai di ruangan sang CEO. Wajah Juan sudah terlihat pucat. Bahkan, tubuhnya juga sudah gemetar ketakutan. Di dalam pikirannya dia terus mencari kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga membuat Ishan marah. “Tuan, ini Juan …,” ucap Hendri. Ishan tampak menatap ke arah Juan dengan tatapan tajam seakan menusuk sampai ke jantung. Ya … memang laki-laki ini yang tadi dia lihat sedang bercanda dengan Iresh sewaktu masih di kantin. Kemudian Hendri melangkah keluar ruangannya untuk memberikan waktu kepada Ishan dan Juan untuk berbincang. Dia berharap jika dengan berbicara empat mata nantinya akan bisa meredakan kemarahan CEO kejam itu, meskipun sangat kecil kemungkinannya. “Tuan memanggil saya?” tanya Juan dengan raut wajah yang terlihat ketakutan. Ishan masih diam sambil terus mengamati pria yang sedang duduk di hadapannya. Dia melihat penampilan Juan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Apa yang bisa dilihat dari pria ini?” batin Ishan meremehkan. Dia tidak mengerti kenapa Iresh bisa tersenyum lebar dengan pria tersebut. Apa yang bisa dia banggakan? Secara penampilan sangat jelas jauh berbeda dengan dirinya. Apalagi soal kekayaan, mana mungkin pria yang ada di hadapannya ini dapat menandinginya. “Kau dipecat …!” ucap Ishan bernada dingin sambil masih memberikan tatapan tajamnya ke arah lawan bicaranya. Mendengar ucapan Ishan, tentu saja membuat Juan tersentak kaget karena dia dipecat tanpa tahu apa kesalahannya. “Apa kesalahan saya, Tuan? Kenapa saya harus dipecat?” tanya Juan dengan kebingungan. Tatapan Ishan semakin tajam. Dia sangat tidak suka jika ada yang membantah perkataannya. Oleh karena itu, ia pun kembali mengeluarkan suaranya dan harus segera mengakhiri semua ini. “Aku nggak butuh alasan untuk memecatmu, dan sekarang segera keluar dari ruangan ini,” tutur Ishan dengan santainya. Pria itu masih terlihat duduk dengan tenang sambil menumpukan sebelah kakinya kepada kaki yang satunya, sedangkan tangan satunya dia letakkan di atas sandaran kursi. Mau tidak mau, akhirnya Juan pasrah. Setelah ini dia tidak tahu akan mencari pekerjaan di mana lagi karena mana mungkin dia kembali ke rumah orang tuanya dalam kondisi gagal seperti ini. “Aku harus mencari pekerjaan ke mana lagi?” batin Juan dengan putus asa. Tak terasa hari bergulir dengan cepat. Kini sudah waktunya jam pulang kantor. Iresh bergegas keluar kantor dan menunggu ojek online yang sudah dia pesan melalui sebuah aplikasi. Beberapa menit menunggu bukannya ojek yang datang, tapi malah Ishan yang datang dengan mobil mewahnya. Pria yang tidak ingin dia temui nyatanya kini malah ada di hadapannya. “Ck … Dasar pria aneh,” batin Iresh ketika jendela mobil Ishan terbuka dari dalam. “Cepat masuk …!” pinta Ishan sambil menoleh sekilas ke arah Iresh. Mendengar Ishan yang meminta dia masuk ke dalam mobilnya, membuat Iresh seketika langsung memutar bola matanya. Dia malas untuk menanggapi pria itu dan kemudian Iresh memalingkan wajahnya ke arah lain. Detik kemudian dia berjalan menjauh dari mobil pria itu karena tidak ingin terlibat masalah apa pun lagi dengan CEO arogan tersebut. Namun, semuanya berbeda dengan Ishan. Pria itu bergegas turun dari mobil karena tidak suka diabaikan. Tanpa banyak bicara, Ishan langsung memanggul tubuh ramping Iresh seperti memanggul sebuah karung beras di pundak dan membawanya masuk ke dalam mobil, sedangkan karyawan yang masih menunggu jemputan atau ojek online melihat kejadian itu dengan terkejut. “Hei … lepasin aku. Lepas …!” pekik Iresh sambil mencoba memberontak agar segera diturunkan oleh pria tersebut. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya diam dan melihat saja. Bahkan, beberapa di antara mereka tampak ternganga karena sangking kagetnya. Karyawati yang baru saja bergabung di perusahaan tempat mereka bekerja sudah membuat masalah dengan pria yang selama ini selalu mereka hindari karena takut menyinggung pria tersebut, menurutnya. “Tolong … tolong!” teriak Iresh meminta tolong sambil memukuli punggung lebar milik Ishan. Bahkan, orang yang mendengar teriakan Iresh masih terdiam di tempat dan tidak ada yang berniat menolongnya karena mereka tahu siapa pria tersebut. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan pria arogan tersebut. Kabar mengenai pemecatan Juan saja masih membuat mereka bertanya-tanya dan kini mana mungkin mereka mencari masalah dengan orang yang memiliki kuasa seperti Ishan. “Diamlah …!” desis Ishan dengan penuh penekanan sambil menatap tajam tepat ke manik mata Iresh. Gadis itu pun seketika terdiam. Padahal ini bukanlah pertama kalinya dia menentang Ishan, tapi entah kenapa baru kali ini dia melihat sorot mata yang berbeda dari pria tersebut. Apalagi dia juga sudah mendengar kabar jika Juan telah dipecat tanpa alasan dan tentu saja itu membuat Iresh lebih memilih untuk diam karena jika dia sampai dipecat dari pekerjaannya, ke mana lagi dia akan mencari pekerjaan lagi. Belum lagi hutang denda yang harus segera dia bayar, semakin membuat perempuan itu berpikir ulang jika ingin memancing emosi Ishan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN