1
Lampu-lampu putih di langit-langit menyala tanpa kompromi, memantulkan bayangan yang jujur di setiap sisi cermin besar di depan Ara. Tidak ada sudut yang menyamarkan kelelahan di wajahnya. Tidak ada bayangan lembut yang bisa menipu mata. Segala sesuatu terlihat apa adanya, termasuk sepasang mata yang memerah dan riasan yang mulai kehilangan bentuknya.
Ara duduk di kursi rias sejak hampir satu jam yang lalu. Ia tidak bergerak banyak. Hanya sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang terus berontak di dalam dadanya. Gaun pengantin yang dikenakannya menjuntai rapi hingga menyentuh lantai. Warnanya putih bersih, kontras dengan perasaan Ara yang semakin keruh.
Kain gaun itu terasa berat. Bukan karena bahannya, tapi karena maknanya. Ada terlalu banyak harapan yang dititipkan di sana. Terlalu banyak ekspektasi yang seharusnya dipenuhi hari ini.
Di atas meja rias, ponsel Ara tergeletak dengan layar menyala. Nama yang sama terus muncul di benaknya, bahkan saat ia memejamkan mata.
Arga Pratama.
Ara meraih ponsel itu lagi, padahal ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Jarum jam di dinding bergerak pelan, tapi terasa seperti mengejek. Detik demi detik berlalu tanpa perubahan apa pun di layar ponselnya.
Ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ara menahan napas, bahunya sedikit terangkat. Ia membayangkan suara di seberang sana. Membayangkan Arga menjawab dengan nada terburu-buru, meminta maaf karena terlambat, berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Panggilan itu berakhir tanpa jawaban.
Ara menurunkan ponsel perlahan. Jarinya masih menempel di layar, seolah berharap ada getaran susulan. Tidak ada.
Ia membuka aplikasi pesan, matanya menyapu cepat ke baris terakhir.
Pesan itu masih ada di sana.
Belum dibalas.
Sudah terbaca.
Ara tertawa kecil, kering, hampir tidak bersuara. Tawa yang bahkan tidak bisa ia sebut sebagai tawa.
“Lucu,” gumamnya pelan. “Aku masih nunggu.”
Jam dinding kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Detaknya konsisten, tak terganggu oleh kekacauan yang terjadi di dalam kepala Ara. Waktu berjalan seperti biasa, tidak peduli pada siapa pun yang tertinggal.
“Ara.”
Suara seorang perempuan terdengar dari belakang. Lembut, hati-hati, seperti takut memecah sesuatu yang rapuh.
Ara menoleh sedikit. Bayangan kerabatnya terlihat di cermin.
“Sebentar lagi ya,” lanjut perempuan itu. “Sekitar tiga puluh menit lagi akad.”
Ara mengangguk. Gerakannya kaku. Tenggorokannya terasa mengeras saat ia mencoba menelan ludah.
Tiga puluh menit.
Ia kembali menatap cermin. Wajah di hadapannya tampak asing. Bibirnya pucat meski sudah dipoles lipstik. Matanya terlihat kosong meski bulu matanya lentik sempurna. Semua terlihat siap, kecuali dirinya sendiri.
Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya perlahan. Jari-jarinya dingin. Ada getaran kecil yang tidak bisa ia kendalikan.
“Aku cuma butuh waktu,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Perempuan itu mengangguk dan keluar. Pintu tertutup dengan bunyi halus.
Begitu pintu tertutup, ruang rias itu terasa semakin sunyi. Sunyi yang menekan. Ara menarik napas panjang, tapi udara terasa tidak cukup. Dadanya sesak, seperti diikat dari dalam.
Ia mencoba berdiri, berpikir mungkin berjalan sebentar akan membantu. Tapi baru setengah bangkit, lututnya melemah. Ia kembali duduk, kali ini dengan posisi lebih condong ke depan. Tangannya mencengkeram kain gaun di pahanya.
Pintu kembali terbuka.
“Ara,” suara lain terdengar. “Papah kamu sudah datang.”
Ara mendongak.
“Papah?” tanyanya, suaranya nyaris tidak keluar.
“Iya. Sudah duduk di kursi tamu. Beliau nanya kamu kapan siap.”
Ara mengangguk pelan. Ada sesuatu yang menekan di dadanya, lebih berat dari sebelumnya.
“Tolong bilang… masih dirias,” katanya akhirnya.
Pintu tertutup lagi.
Ara menunduk. Bahunya mulai bergetar. Tangannya yang tadi mencengkeram kain gaun kini naik menutup wajah. Tangisnya keluar perlahan, tanpa suara keras, tapi berat. Seperti sesuatu yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan jalan keluar.
Ia tidak menangis dengan indah. Tidak ada air mata yang jatuh satu per satu dengan dramatis. Tangisnya berantakan, terputus-putus, diselingi tarikan napas yang tidak teratur.
Di kepalanya, kenangan muncul tanpa izin.
Mamahnya yang berdiri di depan pintu rumah bertahun-tahun lalu, dengan koper besar dan senyum yang dipaksakan.
“Cuma sementara,” katanya waktu itu.
Sementara yang berubah jadi jarak.
Jarak yang berubah jadi kehadiran yang tidak lagi bisa diandalkan.
Papahnya yang selalu sibuk. Selalu ada urusan. Selalu ada rapat. Selalu ada alasan.
Ara terbiasa mengerti. Terbiasa bilang tidak apa-apa. Terbiasa menunggu.
Dan sekarang, Arga Pratama.
Pria yang ia percayai. Pria yang ia pilih. Pria yang seharusnya berdiri di sampingnya hari ini.
Tangannya menekan d**a, mencoba meredam rasa nyeri yang tiba-tiba muncul. Napasnya tersendat.
“Aku selalu ditinggal,” bisiknya. “Selalu.”
Ponselnya kembali bergetar di meja rias. Ara tersentak. Ia mengangkat wajahnya cepat-cepat, harapan kecil menyelinap meski ia berusaha menekannya.
Ia meraih ponsel itu.
Bukan Arga.
Pesan dari grup keluarga. Notifikasi bertumpuk, membicarakan dekorasi, konsumsi, tamu yang sudah berdatangan.
Tangannya melemas. Ponsel itu jatuh ke lantai dengan bunyi pelan.
Ara tidak memungutnya.
Ia menatap cermin lagi. Perempuan di sana terlihat rapuh. Matanya merah, wajahnya basah, tapi ekspresinya kosong. Seperti seseorang yang kelelahan bukan hanya secara fisik, tapi emosional.
Ia mengusap wajahnya asal, tidak peduli riasannya rusak. Ia tidak punya energi untuk memperbaikinya.
Pintu ruang rias terbuka lagi.
Ara tidak langsung menoleh. Ia mengira itu hanya orang lain yang akan menanyakan kesiapan atau menyampaikan kabar yang sama.
“Ara.”
Suara itu berbeda. Lebih rendah. Lebih tenang.
Ara menoleh perlahan.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang meski matanya jelas menangkap kondisi di ruangan ini. Ia tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di sana, seolah memberi Ara waktu untuk menyadari kehadirannya.
Arga Pratama Kusumo.
Ara butuh beberapa detik untuk mengenali wajah itu. Pandangannya masih buram oleh air mata.
“Mas Arga?” katanya lirih.
Arga melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak terburu-buru mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari Ara.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Pertanyaan sederhana itu menghancurkan sisa pertahanan Ara.
Ia menggeleng. Tangisnya kembali pecah, kali ini lebih berat. Bahunya bergetar hebat.
“Dia nggak datang,” katanya akhirnya. “Dia pergi.”
Arga terdiam. Rahangnya mengeras sedikit, tapi suaranya tetap stabil saat ia bicara lagi.
“Kamu sudah hubungi dia?”
Ara mengangguk tanpa mengangkat kepala. “Semua.”
Tubuh Ara condong ke depan, hampir kehilangan keseimbangan. Arga refleks melangkah cepat dan menahan pundaknya. Sentuhannya ringan, tapi kokoh.
Ara terdiam sejenak. Nafasnya masih tersengal, tapi kini ada sesuatu yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya.
“Papah aku sudah datang,” kata Ara pelan. “Aku nggak bisa batalin. Aku nggak bisa keluar dan bilang semuanya gagal.”
Arga menatap Ara lama. Perempuan yang ia sukai sejak lama, duduk di hadapannya dengan gaun putih, menangis karena ditinggalkan.
“Ara,” katanya pelan.
Ara mengangkat wajahnya. Matanya merah, tatapannya kosong.
“Aku ditinggal lagi,” katanya.
Dan kali ini, ada seseorang yang mendengarnya.