Setelah semua drama pernikahan itu sekitar 2 hari yang lalu, Ara memutuskan untuk langsung kembali bekerja daripada harus canggung bersama laki-laki itu.
Dan dengan mudah, Ara membatalkan cuti yang bahkan sudah disetujui itu.
Biasanya karena memang para karyawan untuk TV nasional jarang libur sih, bahkan untuk hari-hari besar mustahil untuk mendapatkan cuti. Tapi, Ara malah membuang kesempatan itu.
Jadi di sinilah wanitu itu berada.
Di sudut ruangan, televisi besar menampilkan siaran langsung berita siang. Volume disetel rendah, cukup menjadi latar tanpa mengganggu konsentrasi para jurnalis yang berlalu-lalang membawa map, tablet, atau sekadar secangkir kopi.
Ara duduk di balik mejanya, menatap layar laptop yang menampilkan draft naskah liputan. Kursor berkedip di akhir paragraf, menunggu kelanjutan kalimat yang belum juga muncul di kepalanya.
Ia menyesap kopi dari gelas kertas di sebelah keyboard.
Beberapa jam lalu, ia berangkat ke kantor dengan kepala masih berat. Tidurnya jelas tidak nyenyak karena memikirkan respon Mas Arga terhadap pembicaraan mengenai kontrak pernikahan itu.
Ara menghela napas pelan setelah mengingat hal itu lagi, lalu mengetik beberapa kalimat tambahan sebelum akhirnya menyimpan dokumen itu.
"Ra."
Sebuah suara terdengar dari arah belakang yang langsung membuat Ara menoleh.
Lena berdiri di sana dengan setelan blazer krem dan inner hitam, rambutnya diikat setengah. Satu tangan memegang tablet, satu lagi menjinjing gelas minuman dingin yang isinya sudah tinggal setengah.
“Break,” kata Lena singkat.
Ara melirik jam di pojok layar. Dua belas lewat sepuluh. Perutnya memang mulai terasa kosong. Ia mengangguk kecil, meraih ponsel, lalu berdiri.
Ruang break berada di ujung lorong, terpisah dari area kerja utama. Sebuah ruangan tertutup dengan pintu kaca buram. Di dalamnya ada dua sofa panjang berwarna abu, beberapa kursi empuk, dispenser air panas dan dingin, rak berisi berbagai sachet minuman, serta mesin kopi otomatis yang sering menjadi primadona.
Untuk Breakroom sendiri, setiap lantai divisi punya breakroom masing-masing. Karena Ara seorang jurnalis dan Lena adalah presenter, lantai divisi mereka tentu berbeda.
Tapi Lena malah lebih sering nongkrong di breakroom anak-anak jurnalis biar bisa ketemu Ara.
Begitu pintu terbuka, aroma kopi dan teh langsung menyambut.
Lena meletakkan tabletnya di meja kecil, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa. Ia membuka blazer dan menyandarkan punggung, menghela napas panjang.
Karena memang sudah jadwal makan siang, kebanyakan karyawan lebih memilih kantin lantai satu daripada ke breakroom. Jadilah hanya mereka berdua yang ada di sana.
“Gila, segmen barusan chaos banget. Narasumbernya kebanyakan ngomel daripada jawab,” gumamnya.
Ara menuang air panas ke dalam gelas kertas, menyobek sachet teh melati, lalu mengaduknya perlahan. “Makanya jangan kebanyakan undang politisi,” jawab Ara santai.
Lena mendengus. “Produser gue yang milih. Gue juga susah banget lagi sok deket sama dia.”
Ara tersenyum kecil. Ia membawa gelasnya dan duduk di samping Lena. Sofa itu empuk, sedikit tenggelam saat mereka duduk bersamaan.
Untuk beberapa detik, mereka hanya menikmati minuman masing-masing.
Lena melirik Ara dari samping. “Jadi?”
Ara mengangkat alis. “Jadi apa?”
“Jadi gimana hidup lo sebagai istri orang?” tanya Lena tanpa basa-basi.
Ara tersedak kecil. Ia menutup mulut, lalu meneguk teh untuk meredakan rasa panas di tenggorokannya. “Baru juga duduk.”
“Ya justru mumpung lagi break. Gue penasaran setengah mati tau dari kemarin.”
Ara menghela napas, memandangi cairan bening di dalam gelas. “Yaudah, nanti juga tau sendiri.”
“Gue pengen tau sekarang.”
Ara menggeser tubuhnya sedikit agar lebih nyaman. “Lo inget kan se-chaos apa pernikahan gue itu?”
Lena mengangguk. “ off course!Gue sama Rora sebenarnya udah janjian buat nggak nanyain ini sama lo, tapi gue nggak bisa nahan diri lagi.”
“Dasar,” jawab Ara. “Gue semalam udah ngomong ke Mas Arga.”
Alis Lena terangkat. “Ngomong soal?”
“Soal gue nawarin kontrak pernikahan.”
Lena membelalakkan mata. “Lo gila.”
Ara terkekeh. “Santai. Gue tau.”
“Gue serius, Ra. Lo nikah sama orang, meskipun dia bukan yang lo rencanain dari awal."
“Gue cuma pengen semuanya jelas.”
“Jelas apanya?”
Ara menoleh. “Yah hubungannya, semuanya harus jelas dari awal karena gue nggak mau ada salah paham.”
Lena memutar tubuh menghadap Ara. “Lo tau kan dari semua skenario yang mungkin, ini salah satu yang paling ribet. Lo ngalah-ngalahin narsum gue tau nggak?”
Ara menghembuskan nafasnya panjang. “Yah kan lo tau sendiri kalau dia juga terpaksa nikah buat selamatin gue.."
Lena tudak habis pikir dengan sahabatnya itu. Ia menenggak minumannya sampai hampir habis. “Terus respon Mas Arga gimana?”
“Dia bilang oke.”
“Terus?”
“Terus dia bilang mulai sekarang dia berhenti bersikap seolah ini pernikahan normal.”
Lena terdiam sejenak. “Dan itu yang Lo mau?”
Ara mengangkat bahu. “Mau gimana lagi kan.”
“Ya tapi bukan gitu juga caranya.”
Ara menatap Lena. “Lo tau kan situasi gue.”
Lena mengangguk. “Tau. Tapi tetep aja.”
Ia bersandar, menatap langit-langit ruangan yang putih polos. “Gue cuma ngerasa, apa yang Mas Arga lakuin di pernikahan itu bukan hal sepele.”
Ara menoleh. “Maksud lo?”
“Ra, dia maju gantiin cowok lo yang kabur di hari nikah. Itu bukan cuman keputusan impulsif apalagi setelah tau kalau dia selalu ada di dekat lo pas kecil. Keputusan itu aja udah bisa ngerusak hidup dia sendiri.”
Ara mengaduk tehnya perlahan. Sendok plastik berbenturan dengan dinding gelas, menimbulkan bunyi kecil. “Makanya gue bikin kontrak,” jawabnya pelan. “Biar dia nggak ngerasa terjebak.”
Lena menoleh cepat. “Lo yakin itu bikin dia ngerasa lebih baik?”
Ara terdiam.
Lena mendengus kecil. “Lo tuh kebiasaan. Kalo panik, solusi lo selalu kabur, dari kita SMA, bahkan dari gue kenal lo aja setiap ada masalah lo milih selalu bikin jarak."
Ara menelan ludahnya kalut saat sadar apa yang dikatakan Lena benar. “Tapi daripada drama kan?”
“Aelah, kita kerja di perusahaan yang selalu drama kali, Ra. Nggak ada tayangan kita yang nggak pake gimmick! Lagipula ini tuh beda, kondisi kalian tuh yang di rugiin tetep bakal laki lo!"
“Tapi gue nggak bisa ngejalanin pernikahan yang bukan mau gue sejak awal. Dan makanya itu gue tawarin kontrak biar nggak ada yang rugi.”
Lena menggeleng kecil. “Oke, fair.” Ia meluruskan kaki, menyilangkan pergelangan di atas meja kecil. “Tapi jujur aja ya, gue nyesel dikit sama sikap lo.”
Ara melirik. “Nyesel kenapa?”
“Karena kesannya lo nganggep bantuan Mas Arga di hari itu cuma main-main.”
Ara menggeleng cepat. “Gue nggak pernah nganggep gitu.”
“Ya tapi kontrak lo itu seolah bilang pernikahan ini cuma solusi teknis.”
Ara menelan ludah. “Yah lo tau sendiri kan kondisi pernikahan gue kemarin? Siapa coba yang nggak bisa nolak kalau kepepet kayak gitu.”
Lena menggeser posisi duduk, kini menghadap lebih dekat. “Gini ya, gue paham banget kenapa lo kaku. Pernikahan lo tuh satu-satunya sinetron no gimmick-gimmick."
Ara tersenyum kecil dengan sarkas. “Thanks.”
“Tapi justru karena absurd itu, menurut gue, lo harus pelan-pelan nerima aja dulu. Jangan langsung dikontrakin, apalagi laki lo aja meskipun rugi nggak ada tuh dia minta apa-apa dari lo.”
Ara mengangkat alis. “Lo sok bijak banget hari ini.”
Lena terkekeh. “Gue presenter. Emang kerjaan gue sok bijak.”
Ara ikut tertawa. Ketegangan yang sejak tadi menggantung perlahan mencair.
Lena berdiri dan menuang air dingin ke gelasnya. Es batu berdenting pelan.
“Gini ya,” kata Lena sambil kembali duduk. “Gue bukan nyuruh lo jatuh cinta lagi setelah baru aja ditinggalin mantan breng sek lo itu. Tapi gue cuma nyuruh lo berhenti mikir semuanya harus di atur, biarin aja ngalir. Jangan cuman karena lo masih gamon eh Mas Arga yang kena imbasnya.”
Ara berdecak. "Gue udah mikir berkali-kali sebelum nanyain soal kontrak itu tau, lo kira gue se jahat itu setelah apa yang Mas Arga lakuin?"
"Yah harusnya nggak usah lo lakuin, simple!"
"Tapi udah terlanjur juga, Lenaaaaaa ~ Yah lo mikir aja gimana caranya gue tarik balik perkataan gue sendiri." dengan nada sebal
"Yah lo tinggal bilang, Mas Arga mau nerima kontrak itu karena lo yang mau kan? bukan kemauan dia Araaaaaa ~ " Ujarnya meniru gaya bicara Ara yang semakin membuat wanita itu cemberut.
"Nggak segampang itu ah!"
Lena menatap Ara lebih serius. “Lo tau nggak, ada satu hal yang bikin gue mikir Mas Arga itu nggak main-main.”
Ara mengangkat bahu. “Apaan?”
“Di pernikahan lo kemarin itu, sepupu lo si Juan bilang kalau dia liat Mas Arga emosi pas dia ngabarin soal kondisi lo." Lena melipat kedua tangannya. "Kalian kan dari kecil bareng, lo bahkan udah anggap dia kayak abang lo sendiri. Nggak usah ngerusak hubungan dengan kontrak kayak gitu lah."
Ara terkekeh pahit. “Gue nggak pinter urusan beginian.”
“Kelihatan kok.”
Ara menyenggol lengan Lena. “Tuhkan, nyebelin.”
Waktu istirahat sudah hampir habis, Lena bahkan harus kembali lagi ke ruang siaran untuk berdandan sebelum kembali tampil. Dia meraih blazernya dan menggantungnya di lengan.
"Lo tau kan Ra, kalau gue sama Rora bakal ada di pihak lo apa pun keputusan bodoh yang bakal lo ambil?"
Ara mengangguk diam.
"Lakuin aja apa yang menurut lo bener, balik lagi, ini kan pernikahan lo meskipun orangnya tiba-tiba di ganti."
"Gue se salah itu yah nawarin kontrak pernikahan?"
"Salah atau nggak cuman lo yang tau, kan lo yang jalanin."
Ara berdiri sambil mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam yang melilit di sana. "Yaudah deh, gue harus kasih dokumen siaran dulu ke divisi acara."
Lena mengangguk sambil meraih tabletnya yang tergeletak di sana. “Tapi serius, Ra.”
Ara menoleh.
“Jangan ngecilin arti orang yang udah berani berdiri di depan buat lo.”
Wanita itu sukses membuat Ara terdiam.
Lena tersenyum kecil. “Itu aja.”