Pagi esoknya. Aluna seperti biasa terbangun lebih dulu daripada Awan. Kabar baiknya, dia semalaman tertidur tanpa terjaga karena gangguan pernapasan lagi, padahal dia tidak minum obat. "Kenapa rasanya hangat dan nyaman sekali, tapi berat?" Aluna menggulir bola matanya menyapu tubuh. Tatapannya kemudian terkunci pada tangan besar Awan yang memeluk tubuhnya. "Apa ini?" Aluna tak yakin yang baru saja membuatnya nyaman adalah tangan Awan. Ralat! Pelukan dari pria ini yang terasa hangat dan nyaman baginya. Ia tak percaya itu! Lagi, kenapa tangan pria ini bisa bebas memeluknya begini semalaman penuh tanpa izin terlebih dulu darinya? "Awan! Bangun!" "Hmm ... apa ini sudah pagi?" Awan bicara dengan santai menatap lembut Aluna dengan tatapan teduhnya tanpa dosa dan lagi, tangannya masih m

