bc

Terjebak Gairah Paman Mantan Kekasihku

book_age18+
17
IKUTI
1K
BACA
family
arranged marriage
drama
bxg
brilliant
city
like
intro-logo
Uraian

Diselingkuhi kekasih, dicintai secara ugal-ugalan oleh paman kekasinya. Ya, itulah yang Zena hadapi saat ini.Karena pengaruh obat, Justin dan Zena menghabiskan malam berdua. Akan tetapi, itu awal mula kesialan Zena. Ya, wanita yang baru dikhianati kekasih dan sahabatnya itu kena jebakan Justin, pria yang sangat Zena kenal baik sebagai paman dari kekasihnya.Kira-kira, jebakan apa yang pria itu berikan sampai akhirnya Zena mau menerima pinangan Justin?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Surprise Yang Berbalik
“Aahh, calm down, Baby.” “Engga bisa, kamu terlalu nikmat, Baby.” Langkah riang wanita cantik bernama Alzena terhenti. Alzena Keela Jasmine, atau yang akrab dipanggil Zena itu mematung. Suara tadi … suara tadi sangat familiar di telinganya. Bukan hanya satu, melainkan dua-duanya. Ya walaupun secara kasat mata Zena belum melihat pasti, tetapi dia sudah bisa menebak. “Aku bukan Zena yang munafik itu, Ger, aku ngga akan lepas dari kamu. Malam ini jadi malam kita sebelum kamu benar-benar menikah dengan Zena. Aku mau malam ini jadi malam spesial. Ak—aahh!” Sebuah desahan kembali terdengar. Kali ini suara itu terdengar sangat merdu namun menjijikan di telinga Zena. Kedua tangan Zena meremas bucket bunga yang sejak tadi dia genggam dengan erat. “Jangan sebut nama dia, Baby. Ini malam kita, hanya ada kita berdua. Eughh!” Suara sahutan dari sang pria terdengar. Satu langkah Zena maju, dia mengintip kamar yang pintunya tidak tertutup sempurna. Dan ya, kini mata Zena melihat semua dengan jelas. Bagaimana pergumulan panas itu terjadi, desahan yang saling sahut-sahutan, Gerakan yang erotis, dan juga umpatan penuh … kenikmatan. Kedua mata Zena terpejam, dadanya sudah bergemuruh. Di dalam sana ada Geraldy dan Revinka. Mereka adalah kekasih dan sahabat dekat Zena. Zena tidak menyangka pria yang selama delapan tahun menemani hari-herinya tega berkhianat. Dan juga Revinka, padahal baru semalam wanita itu menanyakan soal kapan dirinya dan Geraldy menikah. Tapi malam ini? Fakta apa yang baru ia temukan? Kedua orang terkasihnya berkhianat? Satu tangan Zena membekap mulut, sedangkan yang satunya masih meremas bunga. Ingin sekali Zena masuk dan melabrak, tetapi kedua kakinya sudah lemas duluan. “Kenapa besok dia harus pulang, Ger? Kenapa di Tokyo dia ngga lama? Aku masih ingin berduaan dengan kamu.” “Ada atau engganya Zena, kita akan tetap bisa seperti ini, Revinka. Ah, s**t! Aku mau keluar!” “Jangan dilepas, keluarkan aja di dalam, Baby.” “Kamu serius?” “Ya, ayo bersama-sama!” Hancur sudah hati Zena. Dia sudah tidak sanggup mendengar dan melihat pertunjukan itu. niatnya datang ke apartemen sang kekasih untuk memberi kejutan karena dia pulang cepat dari Tokyo. Tapi sial, malah dirinya yang dapat kejutan. Zena menyeka air mata yang mengalir deras, lalu dia pergi meninggalkan unit sang kekasih. Buru-buru Zena masuk ke dalam lift, lalu dia berjongkok di dalam. Beruntung di lift tidak ada orang lain, Zena bebas mau menangis sesegukan bahkan berteriak. Setibanya di lantai satu Zena mengusap air matanya. Wanita itu berlari meninggalkan apartemen dan masuk ke dalam taksi. “Tujuan ke mana, Nona?” “Saya mau ke Evertha Club.” Supir itu menganggukkan kepalanya. Selama diperjalanan Zena memilih menyandarkan kepalanya di jendela. Baginya ini mimpi buruk, mimpi yang tidak mau ia ulang. Kedua mata Zena terpejam, tangannya memukul-mukul d**a yang sesak. *** Sesampainya di tempat tujuan, Zena langsung masuk ke dalam. Tidak seharusnya memang dia ke sini, tetapi kalau tidak ke sini, mau ke mana lagi? Tidak mungkin juga Zena menceritakan semuanya kepada orang tua di rumah. selain akan menimbulkan kegaduhan, mereka juga tidak akan percaya. Saat Zena sedang berjalan menuju meja, dia tak sengaja menabrak seseorang. Zena menabrak karena dia berjalan sambil melamun. Baju bagian depan Zena basah karena tersiram minuman dari orang yang ia tabrak. “Kalau jalan itu jangan melamun.” Suara berat itu membuat Zena tersentak. Refleks ia mendongakkan wajahnya menatap orang yang sudah pasti laki-laki kalau dari suara. Kedua mata Zena membulat, mulutnya sampai mengangga sedikit. “O-om Justin?” Pria bernama Justin itu menaikkan sebelah alisnya. Kepala pria itu sedikit miring, matanya mencoba menegaskan kalau dia tidak salah melihat dan mengenali orang. Pasalnya ia sudah minum satu botol, kesadarannya mulai memudar. “Aku duluan, Om,” kata Zena. Wanita itu mencoba pergi, namun tangannya dicekal oleh Justin. Pandangan keduanya beradu. Kening Zena mengerut, dia bingung kenapa ditahan oleh pria itu. Ah, sekilas informasi, pria yang kini mencekal tangan Zena adalah paman dari Geraldy. Zena sudah sering bertemu maka dari itu dia kenal. “Zena?” “iya?” “Kata Gerald kamu di Tokyo? Kenapa sekarang ada di sini?” Zena menghela napasnya. Jelas dia pulang diam-diam untuk memberi kejutan pada kekasihnya. Zena yang enggan membahas soal Geraldy mencoba melepaskan cekalan tangan Justin. Namun sial, usaha Zena sia-sia karena pria itu justru menarik Zena sampai ke pelukannya. “Apa kamu udah tau sesuatu?” Kerutan di kening Zena semakin menjadi-jadi. Tahu sesuatu? Apa maksudnya? Sedang asik berfikir Zena dibuat memekik karena tubuhnya semakin dipeluk erat. Zena menggelangkan kepalanya, membuat Justin menyunjingkan senyuman. “Kalau begitu … untuk apa kamu ke sini? Ke tempat seperti ini? Bukankah seharusnya kamu menemui Gerald?” “Bukan urusan Om! Mau aku ketemu atau engga sama dia, itu bukan urusan Om. Lepas, apaan sih?” Tubuh Zena bergeliat, dia berusaha melepaskan pelukan Justin dari tubuhnya. Semakin Zena bergerak, miliknya di bawah sana mulai bereaksi. Seolah tidak mau kehilangan, Justin kembali mempererat pelukannya. “Kapan pernikahan kamu sama Gerald, Zen?” Pernikahan. Satu kata yang sukses membuat hati Zena membara. Bagaimana bisa dia memikirkan pernikahan kalau tadi baru saja melihat adegan tak senonoh?! Apa itu pernikahan? Tidak harus dan tidak boleh itu terjadi. Jijik sekali Zena membayangkan hidup bersama pria itu. Melihat Zena terdiam membuat Justin semakin penasaran. Karena dia berfikir kalau saat ini Zena mengetahui sesuatu namun enggan untuk mengatakannya. Karena Zena tak kunjung menjawab, Justin menggendong tubuh ringkih Zena, membawanya ke sofa yang berada di belakang. Tanpa aba-aba, Justin melempar tubuh Zena ke atas sofa. Tentu Zena kaget dengan tindakan pria itu. Tidak memberi ruang untuk Zena kabur, Justin langsung menindih tubuhnya. Kekagetan Zena semakin menjadi-jadi sekarang. Sumpah demi apapun dia tidak tahu apa yang mau pria itu perbuat padanya. “Om, lepas! Aku ngga ada urusan sama Om, aku ke sini Cuma mau cari ud—” Belum selesai Zena menyelesaikan kata-katanya, mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh pria di atasnya. Kedua tangan Zena yang awalnya memukul dan mendorong d**a Justin di cekal, lalu ditaruh ke atas kepala. Zena menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri demi bisa membebaskan diri dari ciuman Justin. Kini Zena sadar, kalau Justin tengah mabuk. Pasalnya sejak dulu dia tidak pernah seperti ini. Jangankan mencium, menyentuh saja tidak pernah. “Om!” Zena memekik saat ciuman keduanya terlepas. Justin tidak menghiraukan, yang ada dia mendekatkan mulutnya ke telinga Zena. “Saya mau kamu malam ini, Zen.” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.0K
bc

Kali kedua

read
219.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook