Bab 3. Mengumpulkan Bukti

1143 Kata
“Mau ngapain aku dibawa ke rumah kamu?” “Mama mau ketemu sama kamu, Zen. Kok tumben kamu ngga excited?” Zena tidak menjawab. Wanita itu memilih memalingkan wajahnya ke jendela. Tadi, sebelum pergi, Zena sudah menolak. Dia sudah bilang kalau hari ini ingin istirahat di rumah karena lelah. Tetapi tetap saja Geraldy memaksanya. Alhasil, Liana sampai turun tangan. Melihat kekasihnya acuh tak acuh Geraldy semakin bingung. Diraihnya satu tangan Zena, hal itu membuat Zena menoleh menatap Geraldy. “Aku ada salah sama kamu ya, Zen? Kalau iya, coba kasih tau apa kesalahannya. Biar aku tau, biar aku bisa memperbaiki. Zen, delapan tahun loh kita sama-sama, masa kalau marah masih diam begini?” Dalam-dalam Zena menarik napasnya. Perlahan dia menghembuskannya. Susah, tetapi ia mencoba tetap tersenyum. Dilepaskannya tangan Geraldy, lalu Zena menatap lurus ke depan. Tidak ada lagi obrolan, karena setiap Geraldy membuka topik, Zena selalu mematikan. Sampai akhirnya mereka sampai di kediaman Emma—orang tua Geraldy. Mobil Geraldy masuk kepekarangan rumah, lalu dia turun lebih dulu. Namun belum sempat membukakan pintu untuk Zena, wanita itu sudah lebih dulu keluar dengan wajah biasa saja. Gerlady tentu ingin melayangkan pertanyaan lagi, tetapi dia mengurungkan niat. Diraihnya pinggang Zena, lalu keduanya masuk ke dalam rumah. “Yaampun, Alzena, akhirnya kamu datang lagi ke rumah. Mama kangen sekali sama kamu. Kamu apa kabar? Katanya baru pulang dari Tokyo hari ini?” “Kabar baik, Tante. Aku sampai semalam, bukan hari ini.” “Oh, ayolah, stop panggil Tante. Call me Mama. Kamu udah Mama anggap anak sendiri, toh sebentar lagi kamu akan nikah sama Gerald,” sahut Emma. Ditariknya Zena dari pelukan erat Geraldy, kini gantian Emma yang memeluknya. Zena tidak munafik kalau dia suda nyaman dengan orang tua Geraldy. Mereka sudah dekat sejak dulu, bahkan dekat banget. Kedua orang tuanya juga sudah mengenal baik orang tua Geraldy. Dan ya, orang tua mereka yang ingin pernikahan itu segera dilaksanakan. Kalau sudah seperti ini, apa yang harus Zena lakukan? Tentu mengumpulkan bukti perselingkuhan pria itu untuk ditunjukan pada keluarga besar mereka. Zena melirik Geraldy, pria itu tersenyum manis. Cih! Memujinya pun Zena mulai tak sudi. “Ayo, Zena, duduk,” ajak Emma. Zena hanya mengangguk, dia mengikuti ke mana Emma akan membawanya. Di ruang tamu Zena dan Emma duduk bersebelahan. Dengan penuh kasih sayang wanita setengah paruh baya itu mengusap lengan Zena. Seminggu tidak bertemu calon menantu, rasanya Emma sangat rindu. “Kamu mau minum apa, Zen?” tanya Emma. “Nanti aja, Tan—ah, Mama maksudnya. Nanti aja, Mah, aku bisa ambil sendiri kok ke dapur. Kayak sama siapa aja,” jawab Zena berusaha santai. “Biar aku aja yang siapin minum.” Kedua wanita itu kompak menatap Geraldy. Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, pria itu bergegas menuju dapur untuk membuatkan minum. Selagi Geraldy membuat minum, Zena dan Emma banyak mengobrol. Dari membahas pekerjaan, hubungannya dengan Geraldy, dan menanyakan kabar orang tuanya. “Mama, aku izin ke kamar mandi sebentar ya.” “Oke, Sayang, hati-hati ya.” Zena tertawa. Mau ke kamar mandi saja harus hati-hati. Memangnya dia mau kayang? Zena berdiri, lalu dia pergi meninggalkan ruang tamu. Selain ingin ke kamar mandi, Zena ingin melihat sebetulnya minuman apa yang Geraldy buat sampai lama seperti ini. Pelan-pelan wanita itu jalan menuju dapur. Dari pintu dia mengintip sang kekasih yang ternyata sedang menerima telepon. “Aku sedang di rumah, Rev. Di rumah mama, lagi ngga di apartemen. Memang kamu ke sana?” ‘….’ “Ada Zena. Aku ke sini karna permintaan mama. Mama mau ketemu Zena. Siang ini aku ngga bisa, nanti malam kamu datang ke apartemen aku lagi gimana?” ‘….’ “Jangan bicara begitu, baby. Hari ini Zena kelihatan beda, aku ngga mau bikin dia curiga. Ngerti sedikit okay? Janji malam nanti.” ‘….’ “Love you, baby.” ‘….’ “Haha, jangan marah begitu.” Kedua tangan Zena terkepal kuat. Bisa-bisanya mereka masih bermesraan seperti itu, benar-benar menjijikan. Setelah merekam, Zena meninggalkan dapur dengan pelan-pelan. Hatinya sudah tidak sanggup mendengarkan lebih jauh perbincangan mereka. Walaupun Zena tidak bisa mendengar suara Revinka, Zena yakin wanita itu sedang mengeluarkan suara manjanya. Saat Zena kembali ke ruang tamu, dia dikagetkan oleh sosok Justin yang sudah duduk manis di sofa dan sedang mengobrol dengan Emma. Refleks langkah Zena terhenti, otaknya seketika memutar kejadian malam kemarin. Sial, kenapa pria itu ada di sini?! “Zen? Sudah ke kamar mandinya?” tegur Emma karena Zena hanya diam berdiri layaknya patung. Zena yang ingin mengangguk tetapi secara tidak sadar justru menggelengkan kepalanya. Melihat calon menantunya menggelengkan kepala tentu Emma bingung. Lalu kalau tidak ke kamar mandi ke mana wanita itu tadi? Demi menghilangkan kegugupan Zena kembali duduk. Kali ini tidak di samping Emma, melainkan di sofa sebrang. Zena sama sekali tidak berani menatap Justin. Karena tanpa perlu dicari tahu dia sudah mengetahui kalau pria itu sedang menatap dirinya. Bukan kegeeran, pasalnyaZena merasa ada yang mmeperhatikan dan itu bukan Emma. Tak lama Geraldy datang. Pria itu menaruh gelas berisi air minum ke atas meja lalu duduk di samping Zena. Sial, sial, sial! Sekarang Zena diapit oleh dua pria stress nan gila dengan versinya masing-masing. Tangan Geraldy menyentuh kedua tangan Zena yang saling meremas. Zena menoleh. Demi apapun, pria itu cepat sekali berubah sikap. Padahal tadi sedang mesra-mesraan dengan Revinka di telepon. Ingin Zena menepis tangan Geraldy, tetapi dia takut membuat Emma bingung. Pasalnya bukti Zena belum terlalu kuat untuk membongkar kebusukan kekasihnya. “Paman? Ngga ke lokasi?” “Ke lokasi nanti, habis dari sini. Memang Paman ngga boleh ke sini?” Sebelah alis Justin terangkat menatap Geraldy. “Kamu sendiri? Apa tidak kerja?” sambungnya. “Nanti aku ke kantor. Ini habis jemput Zena karna Mama mau ketemu,” jawab Geraldy. Tatapan Justin kembali menguliti Zena yang tak berani menatapnya balik. Dalam hati pria itu tertawa. Melihat Zena yang tertekan baginya sangat lucu. Selain itu Justin salah fokus pada bibir pink milik Zena. “Umh, aku izin ke toilet lagi ya? Permisi.” Buru-buru Zena berdiri, menarik tangannya dari genggaman Geraldy. Dengan cepat wanita itu berjalan ke belakang. “Saya mau ke dapur ambil minum. Apa boleh?” Justin menatap Emma. “Kamu kayak sama siapa aja. Ya sana ambil sendiri,” jawab Emma yang langsung diangguki oleh Justin. Dengan santai pria itu berjalan ke arah dapur. Siapa sangka orang yang ia ingin temui ternyata juga di dapur sedang minum. Padahal tadi bilangnya ingin ke kamar mandi. Dari belakang Justin memeluk tubuh Zena, membuat wanita itu tersentak kaget. Tanpa meminta izin, pria itu mencium pipi Zena. “Hai, Zena,” bisiknya tepat di telinga Zena. “Om!” Tubuh Zena memberontak, namun dengan cepat Justin membalikkan tubuh wanita itu sampai mereka berhadapan. Tatapan keduanya beradu. Zena sudah menahan d**a Justin yang semakin maju. Gila, apa pria itu masih mabuk? Tapi rasanya tidak mungkin. Tanpa aba-aba Justin melumat bibir Zena. “Hhptt!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN