Suasana ruang makan yang tadinya hangat seketika membeku. Bu Nilam terpaku, tatapannya beralih dari wanita asing itu ke lembaran kertas di tangan Alika.
Alika sendiri merasa dunianya seakan berputar. Baru saja ia menandatangani kontrak “pernikahan tanpa cinta” kini ia disuguhi bukti “buah cinta” suaminya dengan wanita lain.
“Apa maksudnya ini?” suara Bu Nilam bergetar, tangannya meraih hasil USG itu dari jemari Alika yang mendadak lemas.
Wanita itu, melipat tangannya di d**a. Gaun merah ketatnya tampak kontras dengan kesederhanaan Alika.
“Silakan tanyakan pada putra kesayangan Ibu. Rayyan Adyatama. Kami menghabiskan malam yang sangat panjang di club malam 2 bulan lalu. Setelah itu pertemuan kami berakhir di hotel. Dan ini hasilnya” ia menunjuk perutnya yang masih rata dengan dagu yang terangkat angkuh.
Alika menarik napas dalam. Dadanya sesak, namun otaknya yang cerdas mencoba memproses informasi ini. Yang ia tahu Rayyan adalah pria yang sangat disiplin dan menjaga harga diri. Benarkah pria sedingin dan segalak itu bisa lepas kendali hanya karena alkohol?
“Mbak,” suara Alika memecah keheningan. Ia berdiri tegak, menatap wanita itu tanpa rasa takut.
“Jika benar ini anak Mas Rayyan, kenapa Anda datang ke sini? Kenapa tidak langsung ke kantornya?”
Wanita itu yang bernama Sherly mendengus remeh.
“Aku sudah ke kantornya berkali-kali! Tapi asistennya selalu menghalangiku. Rayyan tidak mau menemui ku. Jadi, karena aku dengar dia sudah menikah dengan wanita biasa seperti kamu, aku pikir lebih baik aku datang ke sini. Biar kamu istri dari Rayyan dan Ibu dari Rayyan tahu siapa yang sebenarnya mengandung pewaris Adyatama.”
Bu Nilam hampir limbung jika Alika tidak sigap menopang lengannya.
“Alika... Tolong ambilkan ponsel Mama, Mama akan menghubungi Rayyan. Mama akan meminta dia pulang sekarang!” perintah Bu Nilam dengan wajah pucat pasi.
Adyatama Group
Rayyan sedang menatap layar monitor dengan tatapan kosong saat pintu ruangannya diketuk kasar. Arga masuk dengan wajah panik yang jarang terlihat.
“Pak, ini gawat. Wanita itu... Dia ada di rumah sekarang.”
“Siapa?” Tanya Rayyan masih pada posisinya.
“Sherly”
Rayyan tersentak berdiri. “Apa?! Bagaimana dia bisa tahu alamat rumah Mama!?”
“Saya tidak tahu, Pak. Tapi sepertinya dia membawa hasil laboratorium. Ibu Nilam baru saja menelepon, beliau sangat syok.”
Rayyan menyambar kunci mobilnya.
“Aku pulang. Sekarang!”
Di dalam perjalanan, rahang Rayyan mengeras. Ia mengingat malam itu. Malam ketika ia pulang dari kunjungan bisnis ia bertemu Alex rekan bisnisnya yang ia anggap sudah seperti keluarga sendiri.
Saat itu Rayyan diajak Alex untuk bertemu di Club malam. Rayyan tidak menaruh curiga, saat ia sedang berbicara mengenai bisnis dengan Alex tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri, Alex memperkenalkan kepadanya jika wanita itu bernama Sherly. Seingat Rayyan mereka hanya ngobrol biasa.
Rayyan merasa dijebak dua kali. Pertama oleh Alika, dan kedua oleh Sherly, ini yang membuat ia tidak dapat mengontrol emosinya hingga sekarang.
Kembali ke kediaman Adyatama, situasi semakin memanas. Sherly mulai berani duduk di sofa ruang tamu, bersikap seolah dia adalah nyonya rumah.
“Bu saya tahu, Rayyan menikahi wanita ini hanya karena khawatir reputasi keluarga Adyatama hancur kan? Atau.. ”
Alika meletakkan segelas air putih di depan Bu Nilam, lalu menoleh pada Sherly.
“Mbak, saya tidak tahu apa yang terjadi antara Anda dan suami saya disaat awal-awal pernikahan kami. Tapi saat ini, saya adalah istri sahnya secara hukum dan agama.” Ucap Alika tetap tenang.
“Istri sah yang tidak diinginkan!” potong Sherly tajam.
“Mungkin,” jawab Alika tenang, meski hatinya perih.
“Tapi di rumah ini, adab tetap nomor satu. Jika Anda datang untuk meminta pertanggungjawaban, bicaralah baik-baik saat Mas Rayyan datang. Jangan menghina mertua saya.”
Tepat saat itu, pintu utama kediaman keluarga Adyatama terbuka lebar. Rayyan melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan seisi ruangan.
Matanya langsung tertuju pada Sherly, lalu beralih pada Alika yang berdiri di samping ibunya.
“Keluar!” desis Rayyan pada Sherly.
“Rayyan! Apa-apaan ini?” Bu Nilam berdiri, menyodorkan kertas USG itu ke depan wajah putranya.
“Jelaskan ini semua pada Mama! Apa ini benar?”
Rayyan terdiam. Ia menatap kertas itu, lalu menatap Arga yang berdiri di belakangnya.
Arga hanya bisa menunduk.
“Ma, ini tidak seperti yang terlihat. Aku dijebak,” bela Rayyan.
“Dijebak?” Sherly tertawa melengking.
“Saat itu kamu mabuk, Rayyan. Kamu yang menarikku ke kamar malam itu. Sekarang setelah anak ini ada, kamu bilang dijebak? Lihat matanya nanti saat lahir, dia akan sangat mirip denganmu.”
Alika hanya berdiri diam. Tetap memperhatikan gerak-gerik Sherly. Sebagai orang yang terbiasa menerjemahkan bukan hanya bahasa, tapi juga gestur tubuh saat negosiasi bisnis, Alika menangkap sesuatu yang janggal.
Sherly terus-menerus memegang tasnya dengan erat dan matanya sesekali melirik ke arah pintu, seolah menunggu seseorang atau sesuatu.
“Mas Rayyan,” suara lembut Alika membuat semua orang menoleh.
“Boleh aku bicara?”
Rayyan menatap Alika tajam.
“Ini bukan urusanmu, Alika! Masuk ke kamar!”
Alika kembali terdiam, ia masih berdiri di samping Ibu Mertuanya, lalu ia meraih kembali kertas hasil USG itu.
“Mbak.. Anda bilang ini hasil pemeriksaan 2 hari lalu?” tanya Alika.
“Iya, kenapa? Kamu mau menuduh ini palsu?” tantang Sherly.
“Tidak. Saya hanya bingung. Di sini tertulis RS Bina Husada tapi dr. Renita yang menandatangani ini... setahu saya beliau sedang berada di Singapura untuk seminar internasional sejak tiga hari yang lalu. Kebetulan saya baru saja menerjemahkan artikel jurnal medis beliau kemarin.”
Suasana mendadak hening. Wajah Sherly berubah pucat pasi. Rayyan mengerutkan kening, ia merebut dengan kasar kertas itu dari tangan Alika.
Sementara Arga langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengecek jadwal dokter tersebut.
“Pak... Bu Alika benar. Dokter Renita sedang di Singapura dan beliau mengambil cuti sekitar 2 minggu,” bisik Arga.
Rayyan menatap Sherly dengan pandangan yang mematikan.
“Jadi... kamu berani memalsukan dokumen medis untuk masuk ke rumahku?”
“I.. itu... mungkin salah cetak! Bisa saja rumah sakit belum mengganti nama dokter penanggung jawabnya” Sherly mulai gagap. Ia segera menyambar tasnya dan berdiri.
“Pokoknya aku hamil! Kalau kalian tidak percaya, kita tunggu saja sampai perutku besar dan kita melakukan test DNA!”
Sherly berbalik dan lari keluar rumah sebelum Rayyan sempat memanggil keamanan.
Bu Nilam terduduk lemas di sofa, merasa tertipu sekaligus lega. Rayyan masih mematung, menatap Alika yang kini kembali tenang seolah baru saja memecahkan sebuah bom atom.
Rayyan mendekati Alika.
“Dari mana kamu tahu jadwal dokter itu?” Tanya Rayyan dengan tatapan intimidasinya.
Alika menatap suaminya dengan tatapan datar namun tenang.
“Sudah aku bilang, aku seorang penerjemah, Mas. Aku membaca banyak hal yang mungkin tidak kamu anggap penting.”
Alika kemudian berbalik menuju dapur, meninggalkan Rayyan yang terpaku. Namun, sebelum Alika menghilang di balik pintu dapur, ia berhenti sebentar.
“Satu hal lagi.. Meskipun dokumen itu palsu, kejadian di club dan hotel itu nyata, bukan? Kamu memang pergi dengan wanita itu.”
Rayyan terdiam. Ia tidak bisa membela diri untuk bagian itu.
“Aku membelamu di depan Mama bukan karena aku menginginkan apapun darimu,” lanjut Alika tanpa menoleh.
“Tapi karena aku tidak ingin melihat Mama terkena serangan jantung karena ulah wanita itu. Perjanjian kita masih berlaku kan? Aku sudah menandatanganinya, Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, tapi tolong... jangan bawa sesuatu ke rumah ini yang membuat kesehatan Mama terganggu”
Rayyan mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tertampar oleh kata-kata seorang wanita yang ia anggap “lemah”.
Namun, di luar sana, Sherly tidak benar-benar pergi. Ia masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang terparkir jauh dari gerbang kediaman keluarga Adyatama. Di dalam mobil itu, seorang pria misterius sudah menunggunya.
“Bagaimana? Berhasil?” tanya pria itu.
“Wanita itu... istrinya Rayyan... dia menghancurkannya. Dia tahu soal Dokter Renita,” lapor Sherly ketakutan.
Pria itu tersenyum licik sembari menghisap rokoknya.
“Tidak apa-apa. Ini baru permulaan. Kalau USG palsu tidak mempan, kita gunakan rencana kedua. Rayyan harus hancur, dan wanita itu... dia akan menjadi titik lemah baru bagi Presdir Adyatama Group yang dingin itu.”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥