bc

Terpaksa Menikah Dengan CEO Dingin

book_age16+
711
IKUTI
7.3K
BACA
family
HE
arranged marriage
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Bagi Rayyan Adyatama, ia tidak percaya pada cinta. Setelah hatinya hancur di masa lalu, ia bersumpah untuk menutup diri dan hanya hidup untuk perusahaan peninggalan mendiang Ayahnya. Ia sosok yang tegas, dingin, dan tak tersentuh. Baginya, setiap wanita hanya memiliki niat dan agenda tersembunyi, termasuk Alika Pramesti.Alika hanyalah seorang penerjemah multibahasa dan mencari tambahan penghasilan dengan menjadi guru les bahasa asing bagi keponakan Rayyan yang bernama Karla, ia hanya ingin bekerja dengan tenang. Namun, kesabaran, kelembutan dan ketulusannya dalam mengajar justru menyeretnya ke dalam skenario beresiko yang Bu Nilam, ibunya Rayyan rencanakan, ia terobsesi menjodohkan mereka.Dalam satu siang yang penuh kesalahpahaman, sebuah pintu yang sengaja dikunci dari luar mengubah segalanya. Rayyan dan Alika terjebak dalam situasi yang merusak reputasi, memaksa mereka terikat dalam janji suci pernikahan yang tidak diinginkan.Rayyan murka. Ia menuduh Alika sebagai wanita pengincar harta yang menggunakan topeng kesabaran untuk memikat keluarganya. Di tengah dinginnya sikap Rayyan dan tajamnya tuduhan pria itu, Alika hanya bisa memendam luka dalam diam.Mampukah Alika bertahan menghadapi kecurigaan suaminya? Ataukah Rayyan akan terlambat menyadari bahwa Alika adalah satu-satunya wanita yang bisa memahaminya?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Plakk! Sebuah map dilemparkan ke atas meja rias tepat di depan Alika. Alika tersentak kaget, bahunya sedikit berjingkat, namun wajahnya tetap tenang, ciri khas Alika yang selalu mampu menyembunyikan masalah di balik ketenangan wajahnya. “Baca itu! Lalu tandatangani” suara Rayyan tidak tinggi namun tetap menusuk. Alika mendongak, menatap mata hitam pekat milik suaminya. “Apa ini?” Rayyan menatapnya sinis, sebelah tangannya masuk ke saku celana mahalnya. “Jangan berpura-pura lugu, Alika. Bukankah ini yang kamu inginkan? Menjadi bagian dari keluarga Adyatama?” Lalu ia mendekat, mengintimidasi dengan tinggi badannya yang menjulang. “Di depan Mama, di depan Mbak Citra dan suaminya, di depan publik, aku akan menjadi suamimu. Aku akan memainkan peran pria baik yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Tapi di dalam kamar ini…” Rayyan sedikit membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Alika hingga Alika bisa merasakan hembusan napas pria itu yang terasa panas karena amarah juga aroma parfum maskulin nya yang menyengat indra penciuman Alika. “... Kita adalah dua orang asing. Tidak ada sentuhan, tidak ada kewajiban suami istri, dan jangan pernah berharap aku akan menganggapmu ada.” “Aku tidak pernah berharap.. Aku tidak… “ “Cukup!” potong Rayyan tegas. “Aku tidak butuh kamu untuk menjelaskan apa pun. Aku sudah cukup melihat bagaimana caramu mendekati Mamaku, bagaimana kamu mengambil hati Karla dan Mbak Citra. Kamu pemain peran yang hebat. Tapi bagiku, kamu tetaplah wanita yang memanfaatkan situasi.” Tanpa menunggu balasan, Rayyan berbalik. Langkah kakinya terdengar menjauh menuju pintu kamar. Ia keluar kamar membanting pintu hingga menyisakan dentuman yang menggema di ruangan yang luas itu. Alika hanya bisa menutup mata lalu mengusap dadanya, menahan agar ia tetap tenang. Begitu terdengar deru suara mobil Rayyan meninggalkan halaman rumah mewah Bu Nilam, barulah pertahanan Alika runtuh. Ia tidak berteriak. Ia tidak melempar barang. Ia justru bangkit dengan langkah kaki menuju kamar mandi. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Alika menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Hanya isak tangis tertahan yang menyesakkan d**a. Air matanya mengalir deras, membasahi telapak tangannya. Di otaknya, rekaman kejadian beberapa bulan lalu kembali berputar seperti kaset kusut. Flashback On Hari itu, tiga bulan yang lalu, Alika baru saja selesai mengajar Karla, keponakan Rayyan. Karla sangat menyukai Alika karena kesabaran wanita itu dalam menjelaskan kosa kata bahasa Jerman melalui permainan yang menyenangkan. “Miss Alika, mau minum teh dulu?” tawar Bu Nilam dengan senyum yang sangat tulus siang itu. “Terima kasih, Bu, tapi saya harus segera pulang karena ada terjemahan dokumen yang harus diselesaikan,” tolak Alika halus. Namun, sebelum Alika sempat berpamitan, Bu Nilam tiba-tiba memegang kepalanya dan merintih kesakitan. “Aduh, kepalaku... Miss Alika.. Tolong... Ibu pusing sekali.” Alika panik. Ia membantu Bu Nilam menuju kamarnya. “Ibu istirahat disini ya, saya harus hubungi siapa? Maminya Karla?” “Tidak, tidak. Om nya Karla, Rayyan sedang menuju kesini, saya minta tolong ambilkan handuk kecil saja di kamar mandi, lalu rendam air hangat. Kalau pusing Ibu biasa mengompres nya dengan kompres hangat,” titah Bu Nilam dengan suara lemah. Alika yang tidak menaruh curiga sedikit pun langsung berlari menuju kamar mandi di dalam kamar utama Bu Nilam. Namun, saat ia baru saja menyalakan kran untuk mengisi dengan air hangat, tiba-tiba suara langkah kaki terburu-buru masuk ke dalam kamar. Itu Rayyan. Pria itu tampak sangat panik karena ditelepon ibunya yang mengaku tiba-tiba kepalanya pusing. Rayyan memang khawatir jika Ibunya sudah mengeluh pusing, karena Bu Nilam memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi, sekarang sedang berobat jalan. Rayyan langsung merangsek masuk ke dalam kamar mandi untuk mencari ibunya, namun yang ia temukan hanyalah Alika yang sedang memegang handuk dan gayung berisi air hangat. Klik. Suara kunci pintu dari arah luar terdengar sangat jelas. Mereka berdua terperangkap. Rayyan mencoba mendobrak pintu itu, namun pintu tersebut telah dikunci ganda dari luar. Selama hampir satu jam mereka terjebak dalam ruang sempit itu, sebelum akhirnya Bu Nilam dan Citra membukanya dengan wajah yang berpura-pura terkejut, membawa beberapa pelayan rumah sebagai saksi skandal tersebut. “Rayyan! Apa yang kalian lakukan di dalam kamar mandi?!” seru Citra saat itu dengan nada yang sangat meyakinkan. Rayyan terdiam seribu bahasa. Ia menatap Alika dengan pandangan yang mengerikan, pandangan yang penuh kebencian. Ia tahu ibunya sangat menyukai Alika. Ia ingat beberapa minggu lalu ibunya berkata, “Rayyan, Alika itu paket lengkap. Dia pintar, santun, dan sangat menyayangi Karla. Menikahlah dengannya.” Saat itu Rayyan menolak mentah-mentah. “Aku tidak butuh istri, Ma. Apalagi wanita yang hanya bermulut manis di depan orang tua.” Dan sekarang, kejadian ini seolah mengkonfirmasi kecurigaannya. Rayyan yakin Alika adalah otak di balik drama ini. Ia yakin Alika telah menjebaknya. Otak Alika kembali berputar, rekaman kejadian demi kejadian terus berputar di kepalanya. “Ya Tuhan.. Apa yang kamu lakukan Alika! Ayah menyekolahkan mu hingga perguruan tinggi, agar kamu memiliki adab!” ucap Ayah Alika saat Bu Nilam dan Citra datang ke rumah Alika untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. “Pak, maaf ini bukan salah Alika, putra kami yang salah, kami mohon maaf, anak kami akan bertanggung jawab” ucap Bu Nilam saat itu. Sebetulnya Alika sudah menolak baik-baik kepada Bu Nilam sambil menangis, namun Bu Nilam keukeuh berdalih ini akan menjadi pemberitaan besar jika tercium media dan reputasi keluarga Adyatama da perusahaan yang dipimpin oleh Rayyan sekarang akan terancam. Alika benar-benar tidak tahu akan skenario ini. Begitupun Rayyan. Dilema yang Alika rasakan, namun apa boleh buat, kedua orang tua Alika pun seakan terhipnotis oleh ucapan dan penjelasan Bu Nilam, mereka menyetujui jika Alika dan Rayyan dinikahkan. Flashback off Alika menyeka air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Matanya sembab, namun ketegarannya mulai muncul. Ia tahu, berdebat dengan Rayyan saat ini hanya akan sia-sia. Pria itu sedang buta oleh trauma masa lalunya yang pernah dikhianati, hingga menganggap semua wanita memiliki niat yang sama. Alika keluar dari kamar mandi dan melihat map cokelat yang tadi dilemparkan Rayyan. Ia membukanya. Itu adalah dokumen kesepakatan pernikahan. Isinya cukup membuat Alika kembali menahan sesak, tidak ada harta gono-gini, tidak ada tuntutan nafkah batin, dan pernikahan ini hanya akan berlangsung hingga Rayyan menganggap reputasi keluarga sudah aman untuk sebuah perceraian. Alika mengambil pulpen di atas meja. Dengan tangan tegas namun pasti, ia menandatangani dokumen itu. Ia tidak butuh harta Rayyan. Gaji nya dari membuka les dan penerjemah bahasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia bukan seperti yang pria itu tuduhkan. “Jika diam adalah satu-satunya bahasa yang kamu mengerti, maka aku akan bicara lewat ketulusan” bisik Alika lirih pada ruangan yang kosong. Ia merapikan pakaiannya, memulas wajahnya sedikit agar sembabnya tidak terlihat, lalu melangkah keluar kamar untuk menemui Bu Nilam. Ia akan menjalankan perannya dengan sempurna, bukan karena ia licik, tapi karena ia memiliki harga diri yang sedang ia pertahankan di rumah ini. Di ruang makan, ia melihat Bu Nilam yang tersenyum lebar menyambutnya. “Pagi, Alika. Di mana suamimu? Kenapa dia berangkat pagi sekali tanpa sarapan?” “Mas Rayyan ada rapat mendadak di kantor, Bu. Tadi dia titip pesan untuk minta maaf pada Ibu karena tidak sempat pamit.” Jawab Alika dengan tenang. Satu kebohongan demi kebaikan. Alika tahu, ini barulah awal dari perjuangannya di rumah Adyatama. Sesaat setelah menyelesaikan sarapannya, Alika baru saja akan membawa piring dan gelas bekas makannya ke dapur, tiba-tiba asisten rumah tangga yang biasa dipanggil Bi Sus datang tergopoh-gopoh. “Bu, Mbak Alika, maaf di luar ada tamu” Bu Nilam mengerutkan kening, menoleh ke arah Alika. “Pagi-pagi sudah ada tamu?” Ucap Bu Nilam heran. Langkah sepatu hak tinggi terdengar menyusuri lantai marmer ruang tamu. Seorang wanita masuk tanpa ragu, wajahnya cantik, dengan aura percaya diri yang terlalu berlebihan. Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, lalu menatap lurus ke arah Alika. “Jadi… ini istrinya Rayyan?” Bu Nilam berdiri. “Maaf, Anda siapa..?” Wanita itu tidak menjawab. Ia justru membuka tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop putih, lalu melemparkannya ke atas meja tepat di depan Alika. Plak. Alika menunduk, matanya tertuju pada amplop putih itu. Tangannya terhenti sesaat sebelum membuka. Ada firasat buruk yang merayap pelan. Ia menarik napas, lalu mengeluarkan isi amplop itu. Satu lembar hasil pemeriksaan. Gambar hitam putih yang sangat familiar. Hasil USG. Jari Alika gemetar. Wanita itu tersenyum tipis. “Aku hanya ingin suamimu tahu… kalau dia sebentar lagi akan menjadi ayah.” Jag ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
25.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.7K
bc

Kali kedua

read
223.2K
bc

TERNODA

read
204.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook