Langkahnya berhenti di depan sebuah kafe kecil. Aroma kopi yang kuat membuat tubuh seakan menolak melanjutkan perjalanan. Untuk pertama kalinya, ada dorongan untuk duduk dan menikmati secangkir café crèmes. Kursi empuk, meja kecil, suasana sederhana. Pesanan dibuat, ponsel dikeluarkan, jadwal kerja dibuka.
Belum sempat fokus, koper yang diletakkan di samping mejanya tersenggol.
“Maaf,” ucap seseorang.
Seorang gadis muda memperbaiki posisi koper berodanya. Senyum sekilas diberikan, lalu ia berbalik dan berjalan menjauh. Koper yang ditariknya menyenggol kursi, hampir melindas kaki pelayan, tapi ia tetap melangkah tanpa menoleh.
Ia duduk di dekat jendela besar, menyilangkan kaki, memanggil pelayan, memesan sesuatu tanpa melihat menu. Setelah itu, ia bersandar, menatap keluar.
Sosok itu menarik perhatian. Cahaya matahari dari luar membuatnya tampak berbeda, seakan ada jarak antara dirinya dan keramaian di dalam kafe. Pandangannya bertahan beberapa saat, lalu ingatan tentang janji pertemuan membuat fokus kembali. Kopi diteguk, ponsel disimpan, langkah dilanjutkan.
Malam itu, janji pertemuan di sebuah kelab. Ia datang terlalu cepat, bar sudah ramai, musik keras, orang-orang bercampur. Kursi bar dipilih, minuman dipesan.
Suara lantang terdengar dari samping. “Hugo! Tequila sunrise satu lagi!”
Ia menoleh, dan mendapati sosok yang sama dari bandara. Pakaiannya masih sama, turtleneck biru turkois, celana panjang krem, tanpa jaket. Gelas kosong diangkat, bartender berkepala botak menghampiri.
“Tequila sunrise satu lagi,” ulangnya sambil menggoyang gelas. Senyum manis tersungging, seakan membujuk.
Bartender menatap curiga. “Kau datang sendirian?”
Anggukan tegas. “Memangnya kenapa?”
“Menurutku kau sudah minum terlalu banyak. Aku bisa dipecat kalau kau mabuk di sini.”
Tatapan menyipit, lalu senyum lebar. “Aku belum mabuk, Teman.” Mendadak ia menoleh ke samping. “Monsieur, tolong katakan padanya kalau aku belum mabuk.”
Ia mengamati gadis itu. Memang sedikit mabuk, tapi masih berdiri tegak, ucapannya jelas, dan pandangan fokus.
“Sepertinya belum terlalu mabuk,” ucap suara dari samping.
Bartender menggeleng. “Kalau dia sudah memanggilku Hugo, artinya dia harus pulang.”
Kebingungan muncul.
“Namaku bukan Hugo,” jelas bartender.
“Aku memanggilmu Hugo karena namamu susah diucapkan,” bantah gadis itu sambil tertawa kecil. “Tidak berarti aku mabuk.”
Bartender menghela napas. “Karena kau datang sendirian, sebaiknya jangan mabuk. Tidak ada yang bisa mengantarmu pulang.”
Gadis itu mengibas tangan. “Kau menyebalkan, Hugo. Tapi kau benar. Minum sendirian memang tidak menyenangkan. Aku pulang saja.”
Spontan sebuah tawaran keluar. “Mau kupanggilkan taksi?” Biasanya tidak ikut campur urusan orang lain. Entah kenapa kali ini berbeda.
Tatapan singkat diberikan. Dugaan muncul bahwa ia akan menolak dengan kasar. Namun kenyataannya, hanya senyum kecil, gelengan pelan. “Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
Punggungnya dipandangi sampai menghilang di balik kerumunan. Ada keinginan bertanya pada bartender, tapi ditahan. Jika memang kenal baik, pertanyaan bisa menimbulkan curiga.
Namun harus diakui, ada sesuatu dari sosok itu yang membuat tertarik.