bc

Cinta di Bawah Langit Paris

book_age18+
123
IKUTI
1K
BACA
opposites attract
curse
stepfather
single mother
drama
tragedy
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Di kota Paris yang romantis, Aurelie Rousseau menemukan kebahagiaan dalam setiap helai daun musim gugur. Hidupnya terasa sempurna—hingga kehadiran Arata Kurokawa, pria Jepang yang membenci Paris, mengubah segalanya.

Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan rasa yang hangat sekaligus berbahaya. Semakin dekat, semakin besar rahasia masa lalu yang mengikat mereka. Ketika kebenaran terungkap, cinta yang indah berubah menjadi ujian paling pahit.

Apakah Aurelie dan Arata akan menyerah pada takdir, atau berjuang melawan luka yang tak bisa dihapus waktu?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Ruangan itu sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Semua lampu sudah dimatikan, kecuali yang terdapat di sudut ruangan dekat jendela. Lampu di sana masih menyala karena masih ada seseorang di sana. Gadis yang menempati meja di dekat jendela itu sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan penerangan karena ia tidak sedang bekerja. Aurelie Rousseau duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipat di depan d**a. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Ia menggigit bibir dan tidak habis pikir kenapa ponsel imut dengan berbagai macam hiasan gantung itu tidak berdering, tidak berkelap-kelip, tidak bergetar, tidak melakukan apa pun! Ia memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota Paris dengan tatapan menerawang. Langit sudah gelap. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh lewat. Dengan sekali sentakan ia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja. “Ke mana saja kau?” desis Aurelie sambil mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang dicat biru. “Kau bicara dengan ponsel?” Aurelie mengangkat wajah dan menoleh. Camille Monet yang baru masuk ke ruangan tersenyum kepadanya. Camille manis yang berambut pirang emas sebahu, bermata hijau, dan berhidung berbintik-bintik itu berusia 29 tahun, beberapa tahun lebih tua daripada Aurelie, tapi secara fisik wanita itu tidak terlihat seperti wanita Eropa seusianya. Perawakannya kurus, kecil, dan dengan wajah seperti gadis remaja. Di satu sisi Camille menyukai kenyataan itu—siapa yang tidak suka punya wajah awet muda? Tapi di sisi lain ia dongkol setengah mati kalau ada orang yang menganggap remeh dirinya karena berpikir ia masih remaja ingusan. “Sudah selesai siaran?” tanya Aurelie ringan sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukan kedua siku di meja dan bertopang dagu. Camille mengangguk dan berjalan ke meja kerjanya yang persis di depan meja tara. “Bukankah kau sudah selesai siaran sejak ...,” ia melirik jam dinding, “satu setengah jam yang lalu?” tanya Camille dengan alis terangkat. Aurelie mendesah. “Memang,” jawabnya lemas. Ia menunduk dan menyandarkan kening di meja, lalu mendesah keras sekali lagi. Mereka berdua sama-sama penyiar di salah satu stasiun radio paling populer di Paris. Camille lebih senior daripada tara dan siaran utama yang ditanganinya adalah Je me souviens* ..., yaitu acara yang membacakan surat—surat dari para pendengar, sementara Aurelie membawakan program lagu-lagu populer dan tangga lagu mingguan. “Hei, kenapa lesu begitu?” tanya Camille sambil mengetuk-ngetuk pelan kepala Aurelie dengan bolpoin. “Bukankah biasanya kau paling suka hari Jumat?” Aurelie mengangkat kepala dan tersenyum muram. Hari Jumat memang hari yang paling disukainya karena hari Jumat adalah awal akhir pekan yang ditunggu-tunggu. Tapi hari ini jadi pengecualian. Ia sedang tidak gembira atau bersemangat. “Ooh ... aku mengerti,” kata Camille tiba-tiba dan tersenyum. “Belum menelepon rupanya.” Aurelie menggigit bibir dan mengangguk lemah. Ia kembali melirik ponselnya. Lalu seakan sudah membulatkan tekad, ia mendengus dan meraih ponsel itu. “Lupakan saja,” katanya tegas, lebih kepada dirinya sendiri. Dengan gerakan acuh tak acuh ia melemparkan ponselnya ke dalam tas tangan dan berdiri dari kursi. “Camille, ayo kita pulang sekarang,” katanya. “Duduk mengasihani diri sendiri juga tidak ada gunanya.” Camille menatap temannya dengan bingung. “Yang mengasihani diri sendiri itu siapa?” *** Lima belas menit kemudian, Aurelie dan Camille sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka turun ke lantai dasar. Aurelie berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemanclangan malam kota Paris yang terbentang di depan mata. Pada awal perceraian orangtuanya dua belas tahun lalu, ia tinggal bersama ibunya di Jakarta. Empat tahun kemudian, ketika berumur enam belas, ia memutuskan pindah ke Paris dan tinggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, Paris menjadi hidupnya. Bunyi denting halus membuyarkan lamunan tara. Mereka sudah tiba di lantai dasar. Aurelie keluar dari lift dan melambaikan tangan kepada temannya. Ia memarkir mobilnya di lapangan parkir di luar gedung sementara mobil Camille sendiri diparkir di basement. Aurelie tidak mendapat fasilitas parkir di basement karena ia tidak biasanya mengendarai mobil ke mana-mana. Ia Iebih suka naik Metro*, walaupun ia harus ekstra hati-hati terhadap tukang copet. Tetapi pagi ini hujan turun cukup lebat, jadi terpaksa ia naik mobil. Aurelie menunggu sampai pintu lift menutup dan membalikkan badan. Ia baru saja akan melangkah ketika melihat seorang laki-laki berdiri di dekat meja resepsionis di lobi gedung. Langkah kakinya terhenti dan ia menahan napas, tapi hanya sesaat. Ia lalu memutuskan mengabaikan orang itu dan kembali melangkah. Laki-laki itu melihat Aurelie berjalan terburu-buru ke arah pintu utama. Ia tersenyum dan melambai, tapi Aurelie mengabaikannya dan mempercepat langkah. “Mademoiselle* Rousseau.” Aurelie mendengar panggilan laki-laki itu, tapi pura-pura tidak mendengar. Ia keluar dari gedung dan melangkah cepat ke tempat mobilnya diparkir, berusaha keras mengabaikan bunyi langkah kaki yang menyusulnya. Angin musim gugur menerpa wajahnya dan Aurelie merapatkan jaket yang dikenakannya. “Mademoiselle Rousseau, tunggu sebentar.” Ketika ia hampir sampai di tempat parkir Mercedes biru kecilnya, Aurelie mengeluarkan kunci mobil. Terdengar bunyi pip dua kali tanda pintu mobil sudah terbuka dan ia cepat-cepat masuk. Ia baru akan menutup pintu ketika gerakannya tertahan. “Bisa tunggu sebentar, Mademoiselle?” tanya laki-laki itu sambil menahan pintu mobil. “Kenapa buru-buru?” “Mau apa?” tanya Aurelie dengan nada sama sekali tidak ramah. Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang dia harap berkesan tajam dan menusuk. Aurelie tidak pernah tertarik dengan pria Eropa pada umumnya, dengan rambut pirang, mata biru, dan kulit putih. Tidak, ia lebih memilih yang berkulit agak gelap dan rambut gelap, atau setidaknya cokelat. Tetapi anehnya ia menganggap laki-laki jangkung berambut pirang yang berdiri di sampingnya ini menarik. Laki-laki itu terkekeh pelan dan menunduk. Rambutnya yang dipotong rapi jatuh menutupi dahinya. “Aku sedang bertanya-tanya apakah kau mau menemaniku makan malam.” Dasar laki-laki Prancis! Aurelie menggerutu dalam hati. Ia mendengus kesal dan melirik orang di sampingnya. Laki-laki itu sedang membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya dan seulas senyum penuh percaya diri tetap tersungging di bibirnya, seakan yakin Aurelie takkan menolak ajakannya. Dasar playboy! Karena Aurelie tidak menjawab, pria itu menambahkan, “Aku yang traktir, tentu saja. Kau boleh memilih restaurannya.” Aurelie berusaha terlihat tidak peduli, tapi akhirnya ia tidak tahan lagi dan berseru, “b******k kau, Julien Fountaine! Ke mana saja kau selama ini? Kenapa tidak meneleponku?” Senyum Julien Fountaine melebar, sama sekali tidak terpengaruh omelan Aurelie. “Aku mau makan sate kambing!” kata Aurelie ketus. Ia bersedekap dan menatap lurus ke mata Julien.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook