BAB 2

1403 Kata
Di Paris ini ada satu bistro kecil tidak terkenal yang menjadi kesukaan Aurelie karena mereka menyajikan masakan Indonesia, khususnya sate kambing kesukaannya. Bistro itu terletak di sebuah jalan kecil yang agak sepi dan lumayan jauh dari pusat kota. Tidak banyak orang yang tahu keberadaan bistro itu kecuali beberapa orang yang menjadi langgangan tetapnya, seperti Aurelie. Selain ibunya, satu-satunya yang dirindukan Aurelie dari Indonesia adalah makanannya. Bukannya Aurelie pemilih soal makanan, tapi kadang-kadang ia bosan dengan makanan Prancis dan sate kambing yang sederhana itu bisa menjadi semacam kemewahan baginya. Lain halnya dengan Julien. Laki-laki itu tidak terlalu suka sate kambing atau masakan Indonesia. Singkatnya, ia tidak terlalu suka makanan lain selain makanan Eropa. Sewaktu membiarkan Aurelie memilih, ia tahu benar Aurelie akan memilih bistro ini karena gadis itu penggemar berat sate kambing. Tidak apa-apa. Kali ini Julien mengalah. Ia lebih suka melihat Aurelie Rousseau yang sibuk makan sate kambing dengan gembira daripada Aurelie Rousseau yang pura-pura tidak mengenal dirinya. Karena itu Julien harus puas dengan nasi goreng yang dipesannya. Setidaknya makanan itu kelihatannya lumayan. “Jadi,” kata Aurelie dengan mulut yang masih agak penuh. Ia mengunyah sebentar, menelan, lalu melanjutkan, “Ke mana saja kau seminggu terakhir ini? Kalau kau masih ingat, waktu itu kau janji mau menjemputku di bandara. Kau tahu berapa lama aku menunggu? Kalau tidak bisa menjemput, kau kan bisa menelepon? Bukankah itu salah satu alasanmu membeli ponsel? Untuk menelepon?” Julien tidak segera menjawab. Ia menahan senyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi bahwa ia lebih suka Aurelie Rousseau yang cerewet daripada Aurelie Rousseau yang pura-pura tidak mengenalnya. “Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan. Jangan coba-coba mengataiku cerewet,” ancam Aurelie sambil meraih setusuk sate lagi dan menatap Julien dengan mata disipitkan. Mereka berdua sudah berteman sejak Aurelie pindah ke Paris. Mereka bertemu untuk pertama kalinya ketika Julien diajak menghadiri pesta pembukaan restoran baru ayah Aurelie di Quartier Latin. Julien pernah mengaku pada Aurelie bahwa pada awalnya ia berpikir gadis itu anak angkat karena Aurelie berbeda sekali dengan ayahnya. Ayah Aurelie, Monsieur* Rousseau, adalah tipikal orang Eropa, jangkung, tampan, dengan rambut cokelat terang, hidung mancung, mata kelabu, dan kulit putih pucat, sedangkan putrinya, Aurelie Rousseau, memiliki ciri-ciri dominan orang Asia, dengan rambut hitam yang dipotong pendek dan kulit yang putih, tapi tidak pucat. Sebenarnya kalau diperhatikan dengan saksama, Aurelie juga memiliki mata kelabu dan hidung mancung seperti ayahnya. Begitu pula dengan tinggi badannya yang melebihi rata-rata tinggi badan orang Asia. Gabungan antara unsur Timur dan Barat membuat Aurelie Rousseau memiliki wajah yang unik, menarik, dan tidak mudah dilupakan. Pada awalnya Julien tidak terlalu peduli pada Aurelie karena menganggap gadis itu hanya orang asing yang belum bisa berbahasa Prancis, tapi ia salah. Bahasa Prancis Aurelie tanpa cela dan Julien langsung kagum, apalagi setelah tahu selain bahasa Prancis dan Indonesia, gadis itu juga menguasai bahasa Inggris. Bahasa Inggris Julien yang orang Prancis buruk sekali, sampai-sampai dia malu pada gadis Asia ini. Julien kemudian menganggap Aurelie seperti adiknya sendiri dan mereka berdua sangat cocok. Mungkin karena mereka punya kesamaan nasib. Mereka berdua anak tunggal, orangtua mereka sudah bercerai walaupun masih berhubungan baik, dan mereka tinggal bersama ayah mereka. “Halo? Kau mau mulai menjelaskan sekarang atau mau menunggu sampai salju turun?” Julien mengangkat wajah dan mendapati Aurelie sedang menatapnya dengan alis terangkat. “Baiklah, aku minta maaf,” kata Sebasiten hati-hati dan menyunggingkan senyum seribu watt-nya. “Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara. Aku juga minta maaf karena tidak menghubungimu.” “Kau ke mana saja seminggu terakhir ini?” “Tokyo.” Aurelie mengerjapkan mata. “Tokyo? Jepang?” Julien mengangguk. “Waktu itu ayahku sedang ada di Tokyo untuk urusan kerja. Hari Sabtu lalu, hari kau kembali ke Paris, aku mendapat telepon yang mengabarkan ayahku tiba-tiba jatuh pingsan di tengah rapat.” “Oh—” Julien mengangkat sebelah tangan. “Tidak usah cemas,” selanya cepat ketika melihat raut wajah Aurelie berubah prihatin. “Ayahku hanya kelelahan dan jantungnya memang dari dulu sedikit bermasalah. Jadi aku harus langsung terbang ke Tokyo untuk menggantikannya. Aku sudah pernah cerita tentang rencana pembangunan hotel di sini yang bekerja sama dengan Jepang, bukan?” Aurelie mengangguk. Ia ingat Julien pernah menyebut-nyebut tentang proyek itu. Perusahaan arsitek ayah Julien akan bekerja sama dengan perusahaan Jepang untuk membangun hotel di Paris. Julien adalah salah satu arsitek yang terlibat dalam proyek ini. “Karena ayahku harus beristirahat beberapa hari di rumah sakit, aku yang harus melanjutkan pekerjaannya,” Julien meneruskan. “Aku tidak punya banyak waktu luang untuk menelepon. Ditambah lagi perbedaan waktu yang besar antara Jepang dan Prancis. Aku tidak bisa menemukan waktu yang cocok untuk menghubungimu.” “Di mana ayahmu sekarang?” “Sudah sehat dan kembali bekerja seperti biasa,” sahut Sebastian, lalu mengangkat bahu dan tersenyum lebar. “Ayahku itu tipe orang yang tidak bisa diam.” Aurelie mengangguk-angguk, lalu menunduk memandang makanannya. Ia agak menyesali sikap gegabahnya. Marah-marah sendiri sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Bagaimana kabar ibumu?” tanya Julien mengalihkan pembicaraan. Aurelie mengangkat wajahnya. “Mama? Seperti biasa. Masih sibuk mendesain perhiasan dan aksesori.” “Belum menikah lagi?” Aurelie mengangkat bahu. “Belum. Sepertinya Mama tidak berniat menikah lagi. Sama seperti Papa, kurasa.” “Ada kabar baru apa lagi dari Indonesia?” tanya Julien. Ia memang tidak mengenal keluarga Aurelie yang ada di Indonesia, tapi ia suka mendengar gadis itu bercerita. Aurelie Rousseau memiliki suara yang jernih dan menyenangkan. Tidak heran ia dengan mudah diterima menjadi penyiar utama program radio populer di salah satu stasiun radio paling terkenal di Paris. “Kabar baru apa ya?” gumam tara sambil menekan-nekan bibirnya dengan ujung sendok. “Aku bertemu sepupuku.” “Sepupumu yang mana?” “Yang tinggal di Korea. Aku baru tahu ternyata pacarnya artiss,” sahut Aurelie, lalu mendadak mengalihkan pembicaraan, “Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana dengan Jepang? Kau bertemu gadis Jepang cantik di sana?” Julien menjentikkan jarinya. “Ah, aku hampir lupa memberitahumu.” “Apa?” Aurelie mengerutkan kening dan langsung waswas. Tadi ia hanya sekadar bertanya, tidak sungguh-sungguh ingin mendengar kisah cinta Julien dengan gadis Jepang atau gadis mana pun. “Aku punya teman di Jepang,” Julien memulai. “Namanya Arata Kurokawa.” ‘Arata Kurokawa. Hmm ... Sepertinya bukan nama perempuan,’ pikir Aurelie. “Dia juga arsitek dan dia akan bergabung dalam proyek pembangunan hotel ini. Arsitek Jepang yang sebelumnya bertanggung jawab dalam proyek ini mendadak menarik diri dari pekerjaan ini. Karena itu perusahaan pihak Jepang mengusulkan agar Arata yang menggantikannya. Tetapi ketika aku dan ayahku bermaksud menemuinya di Tokyo, kami diberitahu dia sedang berada di Paris. Aku berhasil menghubunginya dan berjanji akan meneleponnya lagi kalau aku sudah kembali ke Paris.” Aurelie menunggu kelanjutannya. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Julien. “Jadi tadi aku meneleponnya dan memintanya datang ke sini,” kata Julien ringan. Aurelie mengerutkan kening. “Ke sini? Maksudmu sekarang?” Julien mengangguk. “Ya. Kau tidak keberatan, bukan? Kau pasti akan menyukainya. Dia orang yang menyenangkan.” Keberatan? Tentu saja Aurelie keberatan dan ia mengatakannya langsung kepada Julien. “Kenapa kau tidak menemuinya besok atau hari lain? Hari ini aku sedang tidak ingin berkenalan dengan orang asing.” Julien heran melihat Aurelie mendadak kesal. “Arata bisa berbahasa Prancis. Sangat lancar. Kau tidak usah cemas,” tambahnya, salah mengerti alasan kekesalan Aurelie. “Kau kira aku keberatan dengan orang yang tidak bisa berbahasa Prancis?” balas Aurelie jengkel. “Kau yang selalu merasa semua orang di dunia harus bisa berbahasa Prancis. Tapi masalahnya bukan itu. Aku hanya ... Ah, sudahlah! Lupakan saja.” Julien memperbaiki letak kacamatanya dengan bingung. Aurelie tahu Julien mengharapkan penjelasan. Sebenarnya Aurelie kesal karena Julien seenaknya saja mengajak temannya bergabung dengan mereka. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Julien dan hari ini Aurelie ingin mengobrol berdua saja dengannya. Memangnya Julien tidak bisa menemui orang itu setelah makan malam? Memangnya Julien tidak mengerti perasaannya? “Tapi kupikir ...” Julien baru akan menjelaskan ketika ponselnya berbunyi. “Halo? Oh, Arata. Sudah sampai?” Julien berpaling ke arah pintu dan Aurelie dengan enggan mengikuti arah pandangnya. Ia melihat seorang pria berwajah Asia memasuki bistro sepi itu sambil memandang ke sekeliling ruangan. Julien melambaikan tangan. Pria itu melihatnya dan tersenyum. “Aku akan berkenalan dengannya, tapi aku tidak akan lama,” kata Aurelie cepat. “Hari ini aku sedang tidak ingin berbasa-basi. Aku capek.” Julien tidak menjawab karena temannya sudah tiba di meja mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN