Bab 1
Sore itu Arga sedang duduk di Kafe Senja, menikmati kopi seperti biasa, ketika Dimas meletakkan sebuah kertas di atas meja.
Arga menatapnya.
“Apaan?”
“Rencana.”
“Rencana apa?”
Dimas duduk di depannya dengan wajah serius.
“Operasi tahap kedua.”
Arga langsung menghela napas.
“Jangan bilang bunga lagi.”
“Bukan.”
“Cokelat?”
“Bukan.”
“Boneka?”
Dimas terlihat sedikit kecewa.
“Kenapa pikiran lo sekarang selalu ke boneka?”
“Karena dua hari lalu kamu sempat menyarankan kucing.”
“Itu ide bagus.”
“Itu ide gila.”
Dimas menarik kertas mendekat.
“Sekarang kita pakai metode yang lebih elegan.”
“Apaan?”
“Makan malam.”
Arga menatapnya
Arga dan Dimas sedang membuat rencana super absurd.
Pedekate pada Cintya.
Masalahnya Cintya itu istri Arga sendiri.
Mungkin kalian bertanya-tanya, "ngapain pedekate pada istri sendiri?"
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita mundur dulu beberapa bulan sebelum ini.
Beberapa bulan yang lalu di sebuah Lembaga Pemasyarakatan...
--------
Pintu besi itu terbuka tepat pukul delapan pagi.
Suara gesekan logam yang berat terdengar seperti bunyi yang sudah terlalu akrab bagi Arga. Selama lima tahun, suara itu selalu berarti hal yang sama: keluar untuk apel, masuk kembali ke blok, atau sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Hari ini berbeda.
Hari ini, pintu itu terbuka untuk terakhir kalinya.
Arga berdiri beberapa detik di ambang pintu.
Tidak ada yang menyuruhnya segera berjalan.
Tidak ada suara sepatu petugas dari belakang.
Tidak ada teman satu blok yang memanggil namanya.
Hanya angin pagi yang menyentuh wajahnya.
Ia menghirup udara dalam-dalam.
"Subhanallah..."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Langit ternyata masih sama.
Biru.
Matahari tetap menyilaukan.
Orang-orang tetap terburu-buru.
Dunia tidak berhenti hanya karena Arga menghilang selama lima tahun.
Seorang petugas menyerahkan barang-barang miliknya.
Sebuah tas tua.
Beberapa lembar dokumen.
Dompet yang isinya tinggal sedikit.
Dan satu benda yang membuat Arga berhenti cukup lama.
Sebuah foto.
Foto lama yang warnanya sudah mulai pudar.
Di foto itu ada tiga orang.
Arga.
Cintya.
Dan seorang anak perempuan kecil yang tersenyum lebar sambil memegang balon.
Aqila.
Arga mengusap permukaan foto itu dengan ibu jarinya.
Aqila di foto itu masih kecil sekali.
Pipinya bulat.
Rambutnya dikuncir dua.
Dan wajahnya tidak memiliki sedikit pun rasa takut.
Arga menelan ludah.
"Terima kasih, Pak."
Petugas di depannya mengangguk.
"Semoga ke depannya lebih baik."
Arga tersenyum tipis.
"Amin."
Ia mengangkat tasnya.
Lalu berjalan.
Tidak ada mobil.
Tidak ada sopir.
Tidak ada teman.
Tidak ada keluarga.
Lima tahun lalu, ketika namanya masih terpampang di banyak papan proyek properti, Arga keluar dari rumah dengan mobil yang harganya bahkan lebih mahal daripada rumah sebagian orang.
Sekarang ia berjalan ke halte sambil membawa satu tas di pundaknya.
Aneh.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga tidak merasa malu.
---
Bus datang sekitar lima belas menit kemudian.
Arga duduk dekat jendela.
Ia memperhatikan kota yang perlahan bergerak.
Ada banyak hal yang berubah.
Gedung baru.
Toko baru.
Jalan yang terasa sedikit berbeda.
Papan iklan digital yang dulu belum ada.
Beberapa kali Arga hampir tidak mengenali tempat yang pernah ia lewati setiap hari.
Kemudian bus berhenti di lampu merah.
Pandangan Arga tertumbuk pada sebuah papan reklame besar.
Sebuah proyek apartemen mewah.
Ia mengenali desain bangunannya.
Itu dulu bidangnya.
Bahkan sangat mungkin, perusahaan yang mengerjakannya pernah menjadi pesaing salah satu proyek miliknya.
Arga menatap papan itu cukup lama.
Dulu ia bisa membaca angka proyek seperti orang membaca menu makan siang.
Nilainya.
Luas tanahnya.
Keuntungan.
Risiko.
Semua terasa mudah.
Sekarang ia bahkan tidak tahu harga satu kamar di gedung itu.
Arga tersenyum kecil.
"Hebat."
Ia menyandarkan kepala ke kaca.
"Dunia tetap jalan."
Bus kembali bergerak.
Arga membuka dompetnya.
Uang yang ia miliki cukup untuk makan beberapa hari dan membayar tempat tinggal sementara.
Setelah itu?
Ia belum tahu.
Anehnya, ia tidak panik.
Selama lima tahun terakhir, ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan.
Manusia ternyata bisa hidup dengan sangat sedikit materi.
Yang sulit adalah hidup dengan hati yang kosong.
Arga memejamkan mata.
Wajah Aqila muncul lagi dalam pikirannya.
Kemudian wajah Cintya.
Istrinya.
Tidak.
Bukan.
Mungkin lebih tepatnya...
Perempuan yang masih menjadi istrinya, tetapi sudah lama berhenti merasa menjadi istri seseorang.
Arga membuka mata.
Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri.
Tidak memaksa.
Tidak menuntut.
Tidak mengharapkan semua kembali seperti dulu.
Kalau Cintya membencinya, itu haknya.
Kalau Aqila takut kepadanya, itu juga kesalahannya sendiri.
Yang bisa ia lakukan hanya memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki.
Pelan-pelan.
---
Menjelang siang, Arga turun dari bus.
Dari tempat itu, rumah lamanya hanya berjarak sekitar dua kilometer.
Ia sebenarnya sudah berjanji tidak datang.
Tapi kedua kakinya seolah memiliki pendapat sendiri.
Arga berjalan.
Setiap langkah membuat dadanya semakin berat.
Ketika akhirnya sampai, ia berhenti di seberang jalan.
Rumah itu masih ada.
Pagar hitam.
Pot tanaman di teras.
Jendela lantai dua.
Bahkan pohon kecil di samping garasi masih tumbuh.
Hanya satu hal yang berubah.
Arga tidak lagi punya alasan untuk berdiri di depan pintu.
Ia berdiri cukup jauh.
Tidak masuk.
Tidak menghubungi siapa pun.
Hanya melihat.
Lalu pintu rumah terbuka.
Seorang anak perempuan keluar.
Seragam sekolah.
Jilbab putih.
Tas digendong di belakang.
Arga membeku.
Aqila.
Lima tahun ternyata bisa mengubah seorang anak menjadi orang yang hampir tidak ia kenali.
Arga menatapnya tanpa sadar.
Anak itu berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti.
Entah bagaimana, Aqila seperti merasakan tatapan dari seberang jalan.
Ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Arga ingin tersenyum.
Ia bahkan sempat mengangkat tangan sedikit.
Tetapi sebelum senyum itu benar-benar terbentuk, wajah Aqila berubah.
Matanya membesar.
Tubuhnya menegang.
Seolah-olah di depannya bukan seorang ayah, melainkan sesuatu yang menakutkan.
Tangan Aqila menggenggam tali tasnya erat-erat.
Kemudian—
"Aqila!"
Terdengar suara seseorang dari dalam rumah.
Aqila langsung berbalik.
Ia berlari.
Bukan berjalan.
Bukan mempercepat langkah.
Tetapi benar-benar berlari masuk ke rumah.
Arga tetap berdiri di tempatnya.
Tangannya perlahan turun.
Senyumnya hilang.
Ia menatap pintu rumah yang sudah tertutup.
Lima tahun.
Selama lima tahun, Arga membayangkan banyak hal tentang hari ketika ia bertemu putrinya lagi.
Ia membayangkan Aqila menangis.
Membayangkan Aqila marah.
Bahkan membayangkan Aqila memukul dadanya dan berkata bahwa ia membencinya.
Ternyata yang lebih menyakitkan jauh lebih sederhana.
Aqila takut melihatnya.
Arga menunduk.
Ia tidak mengejar.
Tidak mengetuk pintu.
Tidak memanggil nama anak itu.
Karena untuk pertama kalinya ia mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah mampu ia pahami.
Keinginannya untuk bertemu Aqila bukanlah hal yang paling penting.
Rasa aman Aqila jauh lebih penting.
Arga berbalik.
Ia mulai berjalan meninggalkan rumah itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sampai suara klakson kendaraan membuyarkan pikirannya.
Ia menepi.
Menarik napas.
Lalu tanpa sadar merogoh saku dan mengambil foto lama tadi.
Aqila kecil masih tersenyum di dalam foto.
Arga menatapnya.
"Maaf."
Suaranya sangat pelan.
"Maaf karena Ayah datang terlambat."
Ia memasukkan foto itu kembali.
Kemudian melanjutkan langkah.
Tidak tahu akan tinggal di mana.
Tidak tahu bekerja sebagai apa.
Tidak tahu apakah Cintya suatu hari akan mau berbicara dengannya.
Tidak tahu apakah Aqila akan pernah memanggilnya Ayah lagi.
Tetapi kali ini Arga tahu satu hal.
Ia tidak akan lari.
Ia sudah terlalu lama melarikan diri.
Dari masalah.
Dari rasa bersalah.
Dari keluarganya.
Bahkan dari dirinya sendiri.
Sekarang, untuk pertama kalinya, Arga ingin berjalan ke arah yang berlawanan.
Meskipun jalannya panjang.
Meskipun tidak ada yang menunggunya.
Meskipun mungkin di ujung jalan itu tidak ada pintu yang terbuka.
Ia akan tetap berjalan.
Karena selama lima tahun di balik jeruji, seorang guru pernah mengatakan kepadanya satu kalimat sederhana.
Arga masih mengingatnya.
«"Orang yang benar-benar ingin berubah tidak bertanya apakah masa lalunya bisa dihapus."»
«"Dia bertanya apa yang masih bisa dia perbaiki."»
Arga menatap langit.
Lalu tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun—
ia pulang.
Hanya saja...
rumah itu tidak lagi menunggunya.